Adaptation | Film yang Tidak Perlu Setia dengan Media yang Diadaptasinya

Membayangkan apakah sesulit itu menjadi Charlie Kauffman

Membayangkan apakah sesulit itu menjadi Charlie Kauffman

Agak sulit untuk memahamai film Adaptation. Film arahan Spike Jonze ini berbicara dengan gaya tersendiri dan menyampaikan sesuai justru di luar perkiraan. Film ini dimulai dengan adegan yang menampilkan problematika yang dihadapi Charles Kauffman, sang penulis cerita ini sendiri. Ia dipusingkan dengan tuntutan skenario yang mesti ia selesaikan dan masalahnya dengan lawan jenis. Entah mana mempengaruhi yang mana, namun yang pasti kedua masalah itu tidak kunjung selesai. Akhirnya Charles memfokuskan diri pada skenarionya, dan sedikit berharap bahwa akan ada seseorang yang menghampirinya. Berbarengan dengan itu juga ditampilkan flashback proses Susan Orlean menyusun karyanya mengenai pemburu anggrek berjudul The Orchid Thief. Charles sendiri diberi misi untuk membuat skenario yang mengadaptasi buku non-naratif tersebut.

Adaptation menjadi menarik bukan hanya faktor pemain-pemainnya yang berkualitas. Tidak kurang aktor dan aktris kelas Oscar, seperti Nicholas Cage dan Meryll Streep, turut berperan di sini. Cage berperan sebagi Charles dan Donald Kauffman, sedangkan Streep sebagai Susan Orlean. Mereka bahkan dinominasikan untuk mendapat Oscar dalam film ini. Pada akhirnya Chris Cooper yang berperan sebagai John Laroche, si pemburu anggrek, yang diganjar Oscar. Meski begitu kekuatan akting mereka justru tertopang dengan begitu briliannya naskah film ini. Maka tidak heran apabila orang-orang yang mengambil peran-peran inti dalam film ini mampu meraih minimal nominasi Oscar.

Skenario ditulis oleh Charles Kauffman ‘bersama dengan’ Donald Kauffman. Donald Kauffman sendiri adalah sosok yang fiktif. Ia juga ditampilkan dalam film berdurasi 114 menit ini. Skenario ditulis dengan begitu independen, tanpa harus runut dengan apa yang diceritakan dalam The Orchid Thief. Cara bertutur film ini sangat berbeda terhadap Lord of The Rings atau Harry Potter, misalnya. Tentu tidak adil membandingkannya karena Adaptation jelas memiliki genre yang berbeda. Adaptation tidak mengumbar adu pedang atau rapal sihir dan buaian visual effect yang canggih. Tetapi, harus dilihat bahwa skenario film ini tidak menceritakan kembali buku Orlean. Ia hanya mengambil sari patinya, seperti serangga yang hanya menghisap madu anggrek tanpa merusak bunga itu.

Adaptation menjadi kisah yang menarik karena ia justru mengangkat tema yang tidak didapat dari film itu, tetapi justru dari judul filmnya. Tema yang terbaca awalnya tentu adalah soal naturalisme. Namun, Charles seolah sengaja membelokkan tema di tengah jalan, dan mampu dengan baik ditata oleh Jonze selaku sutradara. Tema berbelok drastis ketika Orlean dalam film tidak menemukan keindahan apapun dalam bunga anggrek. Ia tidak melihat ‘hantu’ sebagaimana seperti yang dilukiskan Laroche. Nyaris bersamaan dengan itu, Charles dalam film tidak menemukan enlightment dalam proses penulisannya. Ia malah menemukan dirinya ketika ia mengikuti seminar penulisan skenario yang ia haramkan sebelumnya. Ia dimaki oleh speaker seminar itu (Robert Mckee, tokoh nyata) karena bertanya apabila tokohnya mengalami kebuntuan masalah. Jawab Robert begitu nyata, kira-kira ia mengejek betapa bodohnya Charles dan mengatakan bahwa banyak hal yang bisa ia jiplak dari dunia ini.

Sampai pada pergeseran tema tadi, awam tentu tidak begitu mengerti apa lagi yang mau disampaikan. Bahkan sampai akhir cerita akan banyak yang bertanya mengapa Charles justru semakin bahagia padahal pada akhirnnya kejadian tragis justru menimpanya. Problem film ini lalu bergeser. Setelah film disaksikan, maka perlu diberi pemahaman bahwa justru film ini memberi jawaban atas kritik film yang ada selama ini.

Film ini pertama menjawab dilema film-film adaptasi. Layakkah film adaptasi mendapat apresiasi karena toh film itu hanya bersandar pada karya orisinalnya. Dalam dunia nyata, Charles Kauffman kebingungan ketika ia harus mengadaptasi karya Orlean. Pertama karena buku itu samasekali non-naratif, kedua karena ia sendiri tidak punya cita rasa adaptatif terhadap karya orang lain. Dengan kata lain, ia ‘mengharamkan’ membuat karya duplikat. Charles lalu mengebirikan pandangannya, dan ia pun beradaptasi menjadi orang yang adaptatif. Pada akhirnya, ia rela mengikuti gaya industri yang instan. Hal yang juga tergambar dalam film ketika Charles mau ikut seminar Mckee.

Skenario garapannya membimbing film Adaptation menjadi film yang independen dari The Orchid Thief, namun tetap punya nafas yang sama. Dalam film dilukiskan bahkan persepsi soal anggrek pun bisa bebeda. Ketika Orlean melihat beragam jenis anggrek dari fisiknya, maka Charles melihatnya sebegai representasi seksualnya, dimana perbedaan itu seolah disimbolkan dengan ‘jenis-jenis’ perempuan. Dalam hal ini Charles berbicara bahkan pada prinsip yang dasar dua kepala memiliki dua persepsi yang bisa berlainan. Maka, secara keseluruhan, sehebat apapun seorang sineas tetap saja memiliki perbedaan signifikan dengan karya yang diadaptasi.

Selain itu, dalam Adaptation juga tergambar begitu bebasnya Charles menentukan alur, tidak bergantung penuh pada karya Orlean atau malah pada fakta seputar itu. Ia juga begitu bebas menentukan jalan cerita 20 menit terakhir, tanpa terganggu oleh sikap memandang karya seni sebagai penuh kedalaman. Asal tahu saja, di adegan-adegan akhir ia justru membuatnya menjadi bernuansa suspense-thriller dan tidak memilih akhir yang dramatis. Bagi yang paham, tentunya hal ini di luar dugaan.

Mungkin banyak yang mengira (berharap) bahwa ending film menjadi balik ke tema awal, pencarian anggrek. Bisa jadi akan banyak yang menebak bahwa ketika Charles dan Donald dikejar-kejar Laroche dengan senapan, mereka akan terkagum-kagum dengan sekuntum anggrek yang muncul tiba-tiba. Pada saat itu semua akan sadar, dan masing-masing akan menjadi seperti semula. Namun, yang tidak terjadi tidaklah begitu. Secara implisit, hal tadi juga menjadi harapan dari Orlean dalam film. Ia, saat tragedi menghampiri, menginginkan dirinya kembali menjadi bayi dan kembali menjadi awal.

Kejutan lain dari film ini adalah mampunya film ini ‘menipu’ penontonnya. Ketika menonton The Others, A Beautiful Mind, atau mungkin yang termuthakir The Matrix, penonton akan dibingungkan dengan yang nyata dan yang tidak nyata. Adaptation justru tidak menyampaikan problem itu dalam film. Problem muncul setelah film ditonton. Orang akan kebingungan, apakah memang kehidupan Laroche dan Orlean sekelam itu misalnya.

Jika persepsi orang, terutama yang tidak tahu siapa Susan Orlean, adalah melihat film ini murni adaptasi sekaligus menjadi kisah di balik semuanya, maka bisa jadi orang akan begitu saja percaya. Dalam film ini toh tidak ditampilkan adegan-adegan surealistik seperti film Jonze dan Charles Kauffman sebelumnya, Being John Malkovich. Lumrah saja ketika orang menjadi percaya. Namun, justru di situ Charles Kauffman mengajak penontonnya untuk lebih kritis. Film adalah film, bukan potret kehidupan nyata. Ia hanya menggambarkan, bukan menghidupkan lagi. Seperti kata Mckee, film itu jiplakan dunia nyata. Maka seharusnya bisa dipahami Charles Kauffman, Susan Orlean, dan John Laroche dalam film Adaptation tidak sama dalam kehidupan nyata. Hal sama ketika melihat John Nash dalam A Beautiful Mind tidak sama dengan John Nash asli yang ternyata biseks itu.

Advertisements
Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: