Eternal Sunshine of The Spotless Mind | Kisah Cinta Kaset Rusak

eternalsunshine-blog

 

 

 

 

 

 

 

 

Pantas  juri Academy Awards dan juri Golden Globe tidak memandang serius film Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004).  Film itu dihadirkan tidak dalam tema yang besar. Tidak ada adegan perang melawan antagonis agung atau biopik seorang pengusaha sukses di film ini. Semuanya hanya berkisah tentang cinta manusia biasa yang kebetulan tinggal di Amerika. Kisah cinta mereka pun tidak ditampilkan mendayu-dayu. Joel dan Clementine sebenarnya dalam waktu nyatanya ditampilkan hanya dua hari, selebihnya hanya dunia memori Joel.

Eternal Sunshine merupakan kisah sebuah keterbatasan. Musik yang mengalun adalah musik lo-fi yang kesemuanya diaransemen dengan sederhana. Pola pikir tokoh-tokohnya juga tidak brilian, kecuali mungkin si pencipta alat penghapus ingatan. Hal itu ditunjukkan oleh gemarnya Mary Svevo (Kirsten Dunst) memakai kata-kata Nietzsche yang ia ambil dari buku kutipan, bukan dari aforisme Beyond Good and Evil yang membingungkan itu. Kamera yang bergerak mengikuti Joel pun dipakai dengan sederhana, layaknya film-film yang dibuat oleh sutradara amatir. Namun, jika diperhatikan lagi keterbatasan adalah sebagai efek, bukan karena situasi. Artinya keterbatasan di sini sengaja ditampilkan, bukan karena sang produser tidak bisa membuat lagu yang full orchestra yang rumit.

Film yang diarahkan oleh Michel Gondry berdasarkan skenario brilian Charles Kauffman ini merupakan hasil kreasi seni retro. Nuansa 80-an begitu kental di sini. Bahkan Beck yang kini sudah merupakan musikus kawakan yang selalu tampil eksploitatif, membuat lagu yang begitu enak didengar di film ini dengan gaya lamanya, lo-fi. Dialog antara Joel dan Clementine juga tidak membingungkan, di luar tren dialog film-film drama yang mencoba untuk hadir secara ‘cerdas’. Film ini tidak terjebak pada dialog-dialog yang dipaksakan untuk terdengar rumit. Segalanya mengalir enak tanpa ada kesan distorsi.

Namun, apa bagusnya ketika film ini hadir dalam kesederhanaan yang begitu saja. Apalagi Sutradaranya adalah Michel Gondry yang terkenal cukup nyeleneh. Tentu itu menjadi penyia-nyiaan kemampuan Gondry. Kesederhanaan tadi dan seni retro-nya hanya berlaku di dunia Joel yang ditampilkan nyata. Ketika setting pindah ke alam pikirannya, yang ada adalah kegalauan pikiran Joel. Kegalauan itu pun tervisualisasi dengan nuansa yang pas. Temponya cepat seperti sebuah video klip, karena Joel sendiri dikejar-kejar oleh petugas Lacuna, inc yang ingin cepat-cepat menghapus memorinya. Kesemuanya diimbuhkan dengan filter effect yang berbayang dan kabur, untuk memberi kesan situasi dunia mimpi. Ketika berada di alam imajinasi, efek suara yang dipakai adalah efek suara yang aneh dan sudah banyak dicampurtangani oleh sentuhan digital. Sudut pengambilan gambar pun ‘dikotori’ oleh visual efek canggih yang tidak bisa dibuat oleh alat edit yang amatir.

Eternal Sunshine of The Spotless Mind pun kembali dilihat temanya. Retro dan visualisasi cepat hanyalah aksesoris. Sutradara biasa pun bisa membuat film ala Trainspotting dengan peralatan canggih yang ada sekarang. Namun, bukan Charles Kauffman kalau ia tidak bisa membuat kisah yang begitu menyentuh. Film ini masih bisa dinikmati dengan mata terpejam. Dialog yang sederhana tadi ternyata dihadirkan untuk memberi efek kedekatan penonton dengan tokoh-tokohnya. Sebisa mungkin penonton dibuat berempati, merasakan apa yang dirasakan Joel dan Clementine. Keterhanyutan inilah yang membuat segalanya menjadi indah. Sutradara pun sudah begitu pas menjaga ritme film ini. Dan sekali lagi, musiknya begitu pas mengalun sepanjang film ini.

Sejujurnya ketika orang melihat tema yang ditawarkan, akan banyak yang menginginkan film ini bisa berbicara lebih banyak. Sebelum film ini dirilis, tentu ekspektasi orang terhadap Eternal Sunshine adalah film cerdas yang mengutak-atik akal penikmatnya dan memberi pengaruh signifikan terhadap pengetahuan penontonnya. Film itu tetap cerdas, namun tidak menyentuh hal-hal yang kognitif secara luas. Tema penghapusan memori bisa ditampilkan dalam tema besar dan bisa meraih keuntungan lebih banyak jika itu dirangkum dalam kisah thriller yang memacu jantung misalnya. Namun, tema yang diusung adalah kesederhanaan yang dibungkus dalam teknologi mutakhir perfilman. Film ini membuat Hari Valentine terasa pahit. Itulah sisi lain dari film ini. Tentu hal ini membuat orang-orang enggan menyaksikannya, karena Valentine adalah saat-saat romansa sebuah pasangan itu dimanfaatkan. Bagi pasangan yang dipadu cinta, film ini akan dijauhi karena menyadarkan konsekuensi sebuah hubungan yang bisa jadi menjadi kegetiran yang mendalam.

Eternal Sunshine of The Spotless Mind merupakan film bertema sederhana dan pada beberapa bagian bertutur sangat sederhana. Kesederhanaan itu ternyata merupakan kekuatan dari film ini. Relasi merupakan hal yang diutamakan di jaman sekarang. Sekarang bukan jamannya lagi memaki-maki Nazi atau Komunis. Ini adalah film yang tepat bagi generasi ini untuk merasakan dan merenungkan lagi bagaimana memperlakukan sesama. Kebetulan nuansa 80-an yang dipakai seolah menunjukkan bahwa di masa itulah manusia mulai berpijak pada teknologi digital yang serba mudah dan serba cepat. Sampai sekarang hal itu masih berlaku. Kecepatan itu yang kadang membuat manusia terbiasa atasnya dan melupakan nilai kesabaran yang harus dipegang dalam sebuah relasi.

Advertisements
Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: