Oldboy | Chan Wook Park Melewati Batas via Sinema

dramatis. tragis. oldboy

Dramatis. Tragis. Oldboy

Pada tahun 1997, film Seven yang diarahkan David Fincher dan diperankan oleh Brad Pitt mencengangkan perfilman Hollywood. Style yang ditawarkan film itu begitu kelam, namun tetap mempertahankan penontonnya untuk lekat di kursinya. Di tahun 2003, Oldboy hadir dan memberi nuansa baru bagi perfilman. Film ini diganjar Grand Prize of the Jury pada festival film Cannes.

 

Oldboy arahan sutradara kawakan Korea, Park Chan-Wook kurang lebih memberi intensitas yang sama dengan Seven. Sayangnya ia hanya meminjam seserpih dari film Seven. Serpihan lain didapat dari The Game (juga arahan David Fincher), Visitor Q, Ichi The Killer, Audition (ketiganya besutan Takashi Miike), Shawshank Redemption (Frank Darabont), Clockwork Orange (Stanley Kubrick), dan bahkan laga tarung ala The Matrix reloaded ada di sini. Belum lagi nuansa Hitchcockian yang melingkupi sepanjang film. Jangan pula kaget jika anda akan melihat mayat yang menimpa mobil di film ini akan mengingatkan anda pada salah satu adegan di film Infernal Affair.

Memang sekilas orang berpendapat, apa bagusnya sebuah film ketika ia hadir sebagai bangunan yang sama sekali tidak baru. Jika secara visual, banyak hal yang sudah pernah hadir di media lain, maka layakkah film itu mendapat apresiasi? Tentu untuk kasus Oldboy, hal itu tidak begitu saja bisa diputuskan. Oldboy tidak bisa pula semerta-merta dianggap sebagai karya jiplakan. Pada kenyataannya orang akan sedikit teringat akan film-film yang disebut tadi, namun yang mengagumkan adalah bentuk visual itu hadir dalam cita rasa yang berbeda. Adegan demi adegan hadir dalam intrepetasi yang berbeda. Membandingkan salah satu adegan Oldboy dengan Ichi The Killer misalnya, seperti melihat dua api yang berbeda. Setiap kobaran memiliki sebab yang berbeda. Itulah Oldboy, kobaran sama tetapi kapasitas berbeda. Katakanlah film ini sebagai kolase atas serpihan-serpihan film-film lawas. Bahkan pada orang tertentu, film-film yang tadi disebut seolah tidak ada apa-apanya mengingat Oldboy begitu mengagumkan.

Film Oldboy hampir seluruhnya adalah rekonstruksi nilai. Semua segmen yang dituangkan dalam bingkai film dipastikan merupakan bangunan yang sebenarnya mirip dengan film-film terdahulu. Salah satu yang membuat bangunan itu tidak kelihatan murahan adalah rasa dari film ini yang sulit didapatkan kapasitasnya pada film-film bahkan media penceritaan lain. Mungkin itulah mengapa film itu bisa dikatakan begitu astonishing .

Oldboy bisa dikatakan salah satu film posmodern, avant garde, pop art, atau apalah namanya. Pada intinya film ini merupakan satu dari segelintir film yang hadir seolah medekonstruksi paham-paham seni pada umumnya. Film ini seperti sebuah pastiche yang diekspresikan lewat media film. Tidak ada yang tabu di sini, dan Oldboy jelas-jelas menyingkirkan hal itu. Selain tabu dari norma, film ini juga menyingkirkan tabu dari paham-paham usang soal seni. Film ini tidak malu hadir dengan merekonstruksi gaya yang sudah lama. Toh seni pada umumnya sudah begitu sulit menciptakan sesuatu yang murni Tidak ada salahnya melihat Oh Dae Su berusaha keluar dari kurungannya seperti layaknya Andy Dufresne di film Shawshank Redemption. Kobarannya nyaris sama, kapasitasnya saja yang berbeda.

Dalam sejarah perfilman, memang teknik seperti ini belum banyak dipakai. Kebanyakan memang mengambil serpihan segmen film lain, namun biasanya hadir dalam nuansa yang tidak jauh berbeda. Kapasitas di sini adalah kekuatan Oldboy. Anggaplah Oldboy sebagai kue yang dibuat dengan bahan sama namun rasa yang bisa jadi jauh lebih nikmat. Dan soal nikmat itu adalah soal selera. Maka itu pendapat kenikmatan akan berbeda-beda bagi setiap orang.

Oldboy dengan gaya bercerita tidak lazim (kebanyakan film Korea akhir-akhir ini memang mencoba menerapkan plot yang berbeda dari pakem Hollywood), berhasil mengantar penontonnya ke ketegangan nyaris tiada akhir. Dalam film ini segala nilai dicampuradukkan. Esensi, eksistensi, tabu, norma, harga diri, semua seolah kabur. Segala hal yang enak dinikmati maupun enggan untuk disimak juga diaduk-aduk begitu saja. Kembali ke nilai posmodernitas tadi, film ini memang sulit dicari maknanya. Walau nilai sulit diraih, bukan berarti film ini lantas menjadi media seni yang membingungkan. Pada intinya film ini hanya berkata,”Rasakan!” Tidak perlu rumit untuk mencari makna itu, toh Oh Dae Su terjebak dengan pencarian maknanya sendiri.

Kembali ke soal kepatutan, film ini seperti punya idealisme yang sama dengan film-film Takashi Miike. Setidaknya Oldboy banyak memakai hal-hal yang tidak sesuai nilai-nilai kepatutan. V-cinema ala Takashi Miike tidak segan-segan menampilkan isi yang dianggap tidak layak untuk disaksikan. Darah adalah hal yang lazim di film-filmnya. Dalam satu sisi, makna itu bahkan dicoba untuk diangkat dari keterjijikan itu. Di film Oldboy, terkadang hal di luar kepatutan itu ditampilkan beriringan dengan sesuatu yang dirasa indah. Penyiksaan yang diiringi alunan musik Vivaldi, elitisme Lee Woo-Jin yang membungkus kesadisannya, tanda cinta seorang ayah yang diungkapkan ketika mabuk, dan banyak hal lain.

Diganjarnya Oldboy dengan Grand Prize of the Jury memang menunjukkan bahwa dunia seni perfilman sebisa mungkin melewati batas-batas yang ada. Dunia kemasyarakatan memang kesulitan untuk mengeksploitasi kebebasan. Namun, dunia seni pada umumnya dan dunia perfilman pada khususnya tidak bisa dikekang oleh nilai yang normatif. Seni adalah dunia yang tepat untuk berekspresi sebebas mungkin. Oldboy juga bisa menjadi panutan dimana eksplorasi seni dalam dunia sinematik belumlah menemui kebuntuannya. Daya kreasi manusia masih akan terus berkembang sampai akhir dari peradabannya sendiri.

 

Advertisements
Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: