Dogville | Selamat Datang di Dunia Neraka

Nicole Kidman Dogville

Salah satu film di masa keemasan Nicole Kidman

Dibutuhkan kesabaran dalam menonton Dogville  yang proses penuturannya bertempo lambat dan melelahkan. Tokoh yang dimunculkan bernama Grace, dimana kita tahu bahwa artinya adalah rahmat, namun ia yang diperani oleh Nicole Kidman ini justru kelihatan menjadi sebuah bencana. Grace yang dibawakan dengan kapasitas tinggi ini menjadi nadi atas pemahaman atas film secara umum.

Masyarakat Desa Anjing (Dogville) dijelaskan sebagai model masyarakat yang teratur. Bahasa gambar yang dimunculkan sudah sangat jelas dipaparkan sepanjang prolog. Semuanya punya fungsi masing-masing, bahkan Tom Anderson yang dimunculkan seolah tanpa punya keahlian praktis, di situ berperan sebagai guru moral dan etika bagi masyarakat. Katakan ia seorang bijak atau filsuf seperti dalam model masyarakat yang dibuat oleh Plato. Model yang kelihatan seperti masyarakat sosialis dalam skala yang kecil. Lalu model ini menjadi rusak sejak kedatangan Grace, yang terpaksa lari ke tempat itu untuk menghindari diri dari mafia yang mengejar-ngejarnya.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh sang rahmat ini berjalan perlahan dan dinyatakan secara non-naratif, yang kerusakan itu bahkan tidak disadari oleh Tom si pseudo-philosopher, apalagi warga Dogville lainnya. Sosok Grace kemudian direduksi oleh warga menjadi bagian dari modal, bukan manusia yang utuh, yang bisa dimanfaatkan seolah ia adalah sebuah mobil dimana bensinnya adalah rasa aman dan keterlindungan.

Reduksi pun tidak hanya terjadi atas Grace yang akhirnya menjadikan masyarakat tadi membuat kelas baru. Kelas baru itu adalah kelas yang diwakili Grace, yaitu kelas untuk orang asing yang dipekerjakan. Dengan kata lain, kelas orang asing itu sebenarnya adalah kelas buruh bagi warga Dogville yang sebelumnya ditampilkan seolah tanpa kelas. Warga Desa Anjing itu pun lambat laun mereduksi dirinya, seiring dengan eksplotiasi atas rahmat itu, menjadi masyarakat yang bergerak mengikuti pola nafsunya belaka. Ibaratnya masyarakat yang tadinya hakekat warganya adalah homo faber, maka mereka menjadi manusia yang hanya menuruti libido saja. Pergerakan karakter-karakter di film itu adalah perubahan dari Marxian ke Freudian.

Masyarakat sosialis Marxis yang berevolusi menjadi sosialis Freudian (maksudnya hidup secara sosialis dengan libido sebagai dasar filsafat manusianya) itu lalu mengalami kejatuhan akibat kesalahannya sendiri. Merasa Grace sudah habis ‘sumber daya’-nya dengan melihat secara psikis ia tidak mampu lagi berada di masyarakat, maka diputuskan ia diserahkan ke orang yang mencarinya. Kegagapan pun terjadi. Tokoh yang datang pada akhir cerita itu lalu meminjam karakter antagonis dari lawan masyarakat sosialis. Ia menjadi sosok yang dikonstruksi begitu angkuh, seangkuh korporat yang tidak peduli terhadap kemiskinan negara ketiga. Keputusannya terhadap Grace yang berpengaruh terhadap Dogville pun tidak bisa ditanggung oleh masyarakat itu. Keputusan itu pun kembali ke antagonisme ekstrim atas karakter kapitalisme tadi, kekerasan eksesif.

Film Dogville sebenarnya sangat dimungkinkan mendapat sambutan yang pro dan kontra. Memang Lars Von Trier mengambil resiko dengan menghilangkan aspek penataan set yang mendetil. Melihat Dogville seperti melihat panggung drama dimana penontonnya tidak menonton dari depan panggung, melainkan bisa naik ke atasnya dan memperhatikan dialog antar karakter dari dekat. Di sisi lain, bentuk pencitraan seperti ini seperti bertujuan untuk mengalihkan perhatian secara ekstrim bagi penontonnya ke pergerakan film itu sendiri, bukan aspek materialnya. Pada dasarnya film ini memang menjelaskan sebuah pergerakan, movement. Dalam telaah filsafat film posmodernik film dilihat sebagai gambar-gambar diam yang dibuat bergerak. Pemaknaan, entah itu subyektif atau obyektif, itu dilihat dari gambar diam atau pergerakan gambar diam itu tergantung dari metode dari pencerapan makna yang dikehendaki.

Pandangan mainstream soal film ini memang lebih ke kontra atas putusan Von Trier mengembangkan film ini. Tidak tanggung-tanggung, majalah Newsweek bahkan menempatkannya sebagai satu dari lima film terburuk di tahun 2004. Patut dimengerti bahwa set ala panggung itu punya kesan bahwa Lars Von Trier kelihatan malas mengeksplotiasi film yang sebenarnya bertema megah ini. Minimalisme Von Trier lalu dianggap sebagai pelecehan media film, yang seharusnya bisa memberikan distingsi terhadap media lain seperti teater. Namun, film kembali harus dilihat secara umum dan luas. Artinya, kerikil kecil dalam hal-hal teknis sebaiknya tidak menjadi dasar atas putusan film secara keseluruhan.

Teknik yang Von Trier terapkan sebenarnya tidak perlu menjadi perdebatan khusus apabila notion atas film itu ditangkap dengan jelas. Dan, terbukti bahwa Dogville berhasil dalam membuat tangga atas pencapaian tingkat teratas, yaitu notion tadi. Sejauh ini jarang ada film yang berhasil mengartikulasikan plot yang begitu konstruktif sekaligus argumentatif dan intrepetatif seperti Dogville. Ending-nya menjelaskan semua. Akhir cerita yang punya porsi minim itu jika dipisahkan, menjadi antitesa atas segala bentuk karakteristik maupun bentuk masyarakat ideal dalam bab-bab sebelumnya di film tersebut. Akan kelihatan siapa yang lebih layak disebut filsuf di sini. Selain itu, ada rasa Hitchkock yang disampaikan dengan artikulatif, non-naratif di ending-nya. Poin tambahan dari Dogville adalah rasa kasihan, empati, dan simpati bisa diusir sejenak setelah film selesai ditonton. Kadang terasa miris dan kita tidak tega dengan gaya bertutur seperti ini. Namun, pada saat itulah Von Trier dengan bercanda berteriak pada kita,”It’s a cruel world!”

Advertisements
Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: