Primer | Sci Fi Alternatif di Zona Independen

mencoba mesin waktu

Iseng dengan mesin waktu, iseng dengan probabilitas

Pada tahun 2004, festival film Sundance dicengangkan oleh kehadiran film Primer. Film ini disutradari oleh seorang debutan bernama Shane Caruth. Dengan modal hanya U$7000, film ini berjaya di Sundance, dan merebut penghargaan Grand Jury Prize. Caruth bekerja spartan dengan menjadi sutradara, penyunting, penulis skenario, tata sinematografi, musik asli, dan bahkan pemain utama di film ini sekaligus. Pada beberapa bagian film bahkan terlihat gerak mulutnya mengatakan, “cut” tidak terpotong pada film kecuali suaranya. Untuk mendedikasikan kehebatan Caruth, tulisan ini dengan sengaja banyak menyebut namanya.

Primer memang berdiri sebagai murni sains fiksi. Artinya, segala macam teori yang dipaparkan dalam film, apapun penjelasannya, itu hanyalah sebuah rekayasa belaka. Namun, keunggulan film ini adalah bagaimana penuturan itu dibuat serasional mungkin. Keketatan film ini, walau tidak bisa dikatakan sempurna, bisa dikatakan baik. Memang sulit menangkap notion film Primer dengan cara pandang yang sama ketika menyaksikan film-film tentang perjalanan waktu lainnya yang lebih ‘sederhana’. Bahkan esensi perjalanan waktu dalam film itu sebenarnya berbeda. Mesin waktu buatan Abe (David Sullivan) dan Aaron (Shane Caruth) tidak bekerja layaknya mesin waktu ala HG Wells. Mesin itu tidak berpindah, hanya ruang di dalamnya. Di sinilah keunggulan dari film itu. Pola kerja mesin itu yang unik menjadikan film ini pun terasa baru.

Primer pada akhirnya bergantung pada kompleksitas kerja mesin waktu tersebut. Kompleksitas yang konsekuensinya adalah kerumitan cara tutur film tersebut. Caruth pun menjelaskan segalanya secara minimal. Bagaimana mesin itu bekerja diterangkan lewat dialog Abe dan Aaron, dan kadang disertai sedikit kilas balik. Suatu penggambaran yang talky but muted. Penonton mau tidak mau harus berulang kali untuk menyaksikan Primer agar bisa didapat penggambaran yang jelas. Film ini bukan jenis yang bisa disaksikan dengan sekali tonton.

Hal kerumitan memang pada akhirnya akan mendatangkan kontroversi. Di masa lalu, The Matrix yang seolah rumit saja mendapat perdebatan di sana-sini. Primer juga mengalami hal yang sama. Mesin waktu bagi sebagian kalangan dianggap mustahil, maka apabila hal itu dimungkinkan dalam dunia sastra atau sinema, maka celah untuk mencari ketidakmasukakalannya pun bisa dicari dengan mudah. Teori yang kerap menjadi senjata adalah paradoks, di mana ketika orang ke masa lalu lantas ia membunuh ibunya sendiri maka. Hal ini berarti bahwa diri manusia di masa sekarang adalah bentuk hukum kausalitas dari ia di masa lalu. Maka tidak ada satu celah kemungkinan pun untuk mengubahnya. Caruth sebenarnya tahu bahwa ini mungkin menjadi bahan serangan, maka ia menyatakan di dalam film lewat karakternya, yaitu bahwa ketika mesin itu sanggup membawanya ke masa lalu, maka ia sekaligus pula sanggup untuk mengubah segalanya.

Primer secara sinematik memang tidak bisa dikatakan sempurna. Caruth mengakui ada beberapa bagian di dalam film yang tidak memadai secara teknis. Hal itu seperti ada beberapa yang terpaksa suaranya di-dub, karena faktor akustik yang buruk. Keputusannya untuk memakai kamera 16mm (super 16) pun berakibat minimnya kualitas gambar di beberapa bagian, terutama ketika kejadian itu diambil di malam hari. Namun, film bagus tetaplah film bagus. Sekurang baik apapun film secara teknis, ketika bahasa yang disampaikan sudah bisa dihantar dan menimbulkan efek memesona, maka soal teknis tadi tidak merusak keseluruhan film. Sejauh kekurangan teknis itu tidak melelahkan, maka hal itu bisa ditoleransi.

Primer lalu bisa diakui sebagai dengan bujet minimal namun cita rasanya maksimal. Bisa jadi segala bentuk penghematan yang Caruth lakukan, dimetaforakan ke dalam film lewat penghematan super ketat Abe dan Aaron dalam membuat mesin waktu itu. Wal Mart feature ini (pada bagian tertentu Caruth menyatakan bahwa penerangannya dilakukan menggunakan lampu yang dibeli di Wal Mart, dan beberapa pakian yang dikenakan pemainnya juga dibeli di tempat itu) pada akhirnya menjadi penyemangat sineas lain untuk membuat film baik tanpa membatasi dirinya dengan masalah biaya.

Penuturan Primer sebenarnya dianggap bermasalah oleh berbagai kalangan. Kritikus menuding ini adalah akibat dari ketidakmatangan sang sineas dalam membuat film ini. Ada beberapa bagian yang terasa ditampilkan secara semena-mena, seolah berlangsung secara tiba-tiba. Ada pula penjelasan yang dianggap melompat, yang akhirnya membuat penonton harus menyimpulkan sendiri runutan film itu. Bagi sebagian besar penonton, apalagi yang terbiasa dengan pembabakan ala Hollywood, Primer terasa terlalu rumit.

Sebenarnya Primer tidak berarti sama sekali tidak bisa ditangkap maksud ceritanya. Emosi yang ditampilkan secara pas oleh David Sullivan mendukung dramatisasi dan penjelasan teknis di film ini. Film diawali dengan sebuah suara narator (yang tone-nya mengingatkan kita pada HAL di film 2001: A Space Odyssey). Selanjutnya narasi masih berlangsung, ditambah dialog-dialog panjang dan kehadiran mesin-mesin elektronik nyaris sepanjang film. Mesin-mesin itu bahkan tidak dibuat artistik, ditampilkan seperti bagaimana seorang teknisi membuat alat ciptaannya.

Caruth tidak memaksakan mesin-mesin itu terlihat indah, yang di sisi lain justru sangat kelihatan palsu. Kepalsuan itu diredam kesederhanaan mesin itu dihadirkan. Hal-hal itu memang konsekuensinya memaksa sebagian orang untuk mengalami sebuah kebosanan ketika menyaksikan Primer. Gerakan dalam film ini toh juga tidak banyak. Memang pada akhirnya hanya konsentrasi yang bisa mengantar penonton menuju pemahamannya. Dan, ketika konsentrasi itu dijalankan, maka bisa disimpulkan betapa briliannya Caruth dalam membuat debutnya. Primer bisa dijadikan referensi untuk menikmati film bermutu, dan sekaligus dikatakan sebagai sebuah couch science berkelas.

Advertisements

2 thoughts on “Primer | Sci Fi Alternatif di Zona Independen

  1. Gilaaaa. Keren banget film ini, sebagai pecinta film mindblowing telat banget baru nonton

  2. Ilham Hanafy says:

    Dan gue baru nonton film ini di taun 2017 ohwauw sangat telat sekali, baru 1 kali nonton, dan masih bingung sama kejadian yang ada di ending…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: