Gie | Ketika Polemik Seorang Soe Hok Gie Dibalut dalam Film

Indonesia sedang wabah Soe Hok Gie. Di hampir setiap sudut toko buku, banyak buku soalnya berserakan. Buku-buku karangannya dirilis ulang dengan ilustrasi gaya baru, buku-buku lain tentangnya yang dibuat oleh orang lain pun tidak luput dibuat. Menurut data Kompas, buku Catatan Seorang Demonstran bahkan menempati urutan teratas buku non fiksi terlaris. Gejala ini menjadi mirip dengan foto Che jeptretan Albert Korda yang akhirnya memunculkan fenomena sosok itu secara global. Walau untuk kasus Soe Hok Gie, gejala yang ada belum sampai menjadi sebuah apotheosis. Wabah ini mau tidak mau terjadi ketika Riri Riza lewat film Gie-nya mencoba mengangkat kembali sosok itu. Film Gie-lah yang membuat sosok itu terangkat, membuat semua orang ingin tahu lebih dalam soalnya.

Terlepas dari apakah Gie itu sempurna atau tidak dalam menggambarkan aktivis UI kurus ini, film ini telah membantu mengingatkan lagi orang yang sebelumnya hanya populer di kalangan akademisi. Soe Hok Gie pun dikenang lagi sebagai tokoh yang sangat kritis di jamannya dan kehadirannya patut dipertimbangkan dalam sejarah Indonesia. Hal itu bahkan berpengaruh ke LSF, yang dengan norak memotong adegan ciuman Nicolas Saputra dengan Wulan Guritno dengan dalil ‘pelurusan sejarah’. Entah mengapa LSF tiba-tiba merasa berhak untuk menentukan sejarah, padahal sebelumnya tokoh itu pun bahkan diabaikan dalam dimensi perjuangan etis bangsa ini. Oleh pemerintah, dalam hal ini LSF bisa disejajarkan dengan pemerintah, kekritisan Soe ditakutkan akan mewabah ke kalangan mahasiswa Orde Baru waktu itu, jadi wajar jika gayanya sebaiknya tidak ditiru pada masa paska Orde Sukarno.

Gie secara sinematik memang dikatakan cukup bagus. Film itu tidak bisa dikatakan brilian, dan terlalu kejam kalau disebut hanya sebagai film biasa. Di luar negeri film itu memang tidak laku, karena Gie lebih peduli pada isi lokalnya. Film Gie tidak banyak menampilkan sisi senematik baru, untuk dunia perfilman secara umum. Untuk dunia film lokal, gayanya yang tidak menggurui dan efek transfer emosi yang cukup berhasil merupakan gaya lain yang tidak ditampilkan film-film lain. Film ini bisa menampilkan polemik negeri yang kompleks ini dalam bahasa film yang mudah dicerna. Memang di sini kelihatan kedewasaan Riri dalam mengeksekusi idenya. Nampaknya ia tidak menggubris perdebatan tidak bermutu yang selalu hadir di dunia film kita, yaitu soal film idealis dan film populer. Bagi Riza mungkin dua hal itu sebenarnya tidak ada. Gie dibuat tidak terpaku pada poros itu, karena memihak salah satu berarti juga memasung kekreativitasannya sendiri.

Sebelum film ini dirilis, banyak yang meragukan sosok Nicolas sebagai Soe. Harus diakui, secara fisik ia sama sekali tidak mirip dengan Soe Hok Gie. Pemilihan Nicolas jadi teringat akan pemilihan Gael Garcia Bernal sebagai Che di film Motorcycle Diaries. Gael adalah idola di Meksiko, juga Nicolas di sini. Walau hal itu berhenti sampai di situ. Che adalah sosok yang sudah terkenal, jadi walau Gael tidak bermain di situ, Motorcyle Diaries tetap punya nilai lebih. Sepertinya kehadiran Nicolas di satu sisi merupakan strategi untuk membantu pembangkitan sosok itu. Namun, ketika film itu beredar, diakui bahwa cacian tidak perlu datang ke Nicolas.

Kehadiran Nicolas pun menjadi pelengkap mise en scene dari film Gie yang tergolong memukau untuk ukuran Indonesia ini. Soe yang di bukunya terlihat sebagai orang yang berubah dari optimis menjadi sangat skeptis itu tergambar dalam ekspresi Nicolas. Tentu hal itu juga terbantu dari sinematografi film itu yang dengan apik pada bagian tertenu menekankan dimensi kesendirian dan kesepian dari seorang Soe. Namun, meski banyak pujian patut dialamatkan ke film Gie, ada satu kekurangan yang cukup menggangu dari film itu. Kekurangan itu membuat film itu terasa tanggung. Di film ini transformasi Soe menjadi sosok yang frustrasi dan kesepian tidak kelihatan secara tegas di akhir film. Padahal, sebenarnya bisa dikatakan titik penting dari kehidupannya, sekaligus ekspresi seorang Soe terhadap problem umum negeri ini.

Riri bukannya lupa akan sisi itu, namun rasanya ia tidak menekankan lebih tegas skeptisisme ala Soe Hok Gie. Padahal bahasa tajam dari tulisan Soe sudah jarang ditampilkan media masa. Di masa ini, media masa cenderung hanya menonjolkan problem filosofis etis, namun tidak berani untuk memaparkan dimensi faktual yang lebih menusuk. Soe sebenarnya kurang tepat dikatakan aktivis, walau dia suka berdemo. Baginya aktivitas demonstrasi hanyalah ‘tugas mulia’ seorang mahasiswa ketika bangsa sedang terjebak pada problem serumit benang kusut. Soe lebih bisa dikatakan sebagai jurnalis yang tajam dan dosen yang sederhana. Memang itu yang kelihatan menonjol di film Gie, tetapi penonjolan itu masih kurang. Riri sebenarnya kalau mau lebih fokus ke sini, ketimbang terlalu mendayu-dayu ke eksplorasi persahabatan masa kecilnya, maka ia bisa menyimulasikan seorang Soe lewat film Gie dengan lebih menyentil.

Film Gie di satu sisi merupakan karya Riri Riza yang akan terus dikenang. Film ini toh berhasil menjadi populer, dan kepopuleran itu bukanlah sesuatu yang haram. Kehadiran film ini pun diakui oleh banyak pihak merupakan penyegar dari bergelimangnya sinetron tolol di telvisi. Katakan film ini mampu hadir sebagai penggairah, dan film alternatif (dan untungnya laku) di tengah genre yang makin monoton di negeri ini. Di lain pihak secara sinematik memang film ini tidak brilian, tetepi eksekusinya berhasil. Dengan keberadaan Gie, maka diharapkan sineas negeri ini akan melakukan eksplorasi yang lebih berani, mengedepankan dimensi sinematik yang lebih mencengangkan.

Advertisements
Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: