9 Naga | Karya Malas Rudi Sudjarwo yang Terlupakan

Film 9 Naga sempat memicu kehebohan. Seperti yang banyak orang ketahui, sebaris kalimat di poster film itu dianggap meresahkan oleh LSF. Entah apa yang bisa membuat resah dari kalimat, “Manusia Terbaik di Indonesia Adalah Seorang Penjahat.” Namun, kenyataannya kalimat itu harus rela ditutup lakban, juga pusar Fauzi Baadila. Begitu hebohnya peristiwa ini, orang pun menjadi penasaran dengan apa yang hendak diketengahkan oleh film ke enam dari Rudi Sujarwo ini. Setelah film ini duputar, respons orang atas film ini beragam. Dari media-media cetak atau media cyber yang ada di negeri ini, 9 Naga rata-rata mendapat sambutan baik. Sang sutradara sendiri sesumbar bahwa ini adalah film drama yang patut dikenang sepanjang masa.

Namun, kalau mau ditelaah lebih mendetil lagi, memperhatikan segala aspek yang dikembangkan oleh penulis cerita Monty Tiwa, juga gaya pengarahan Rudi Sudjarwo ini, film ini ternyata masih terlalu banyak kelemahan yang disimpan. Selama ini memang tanggapan kebanyakan atas 9 Naga terlalu berlebihan, bahkan ada yang mengatakan bahwa ini adalah film yang sudah pasti meraih piala citra, mengutip (katanya) salah satu anggota LSF.

Tanggapan super positif yang menimpa 9 Naga memang wajar. Dengan hadirnya 9 Naga yang menurut Monty Tiwa adalah drama berbalut sinema aksi ini di tengah dominasi oleh genre film-film horor dan film-film romantis, maka tidak heran penonton terpukau dengan tema ini. Bisa dikatakan 9 Naga tergolong cerdik menawarkan kisah yang di luar tipikalisasi perfilman yang ada selama ini. Hanya saja 9 Naga tidak lebih diibaratkan seporsi hot dog dari daerah kumuh di New York yang dijual di Jakarta, yang kebetulan jarang merasakan makanan itu dalam cita rasa asli Amerika. Sebagai sensasi awal mungkin membuat orang terkesan, namun ketika masyarakat tahu bahwa masih banyak makanan yang lebih enak dan label New York tadi bukan jaminan, maka hot dog itu lama kelamaan dianggap makanan sampah saja.

Memperhatikan dari komentar-komentar yang ada di media cyber, film ini dikatakan punya gaya lain dengan film Indonesia kebanyakan. Dengan tempo yang lambat, film ini dituduh punya pendekatan yang mirip dengan film-film Korea Selatan. Kalimat itu perlu dikritisi, sebab apa yang terlampir di dalam 9 Naga sebenarnya menerjemahkan drama ke pergerakan gambar dengan metode perfilman yang lumrah saja. Kalau pun mau dicari-cari gaya spesifik dari 9 Naga, film ini bisa disebut sebagai sintesa tidak sukses dari gaya penyutradaraan Michael Mann dan Clint Eastwood. Referensi yang bisa dipakai untuk film ini adalah Heat dan Mystic River. Pendekatan kritik di sini memakai film-film itu, karena sepertinya Rudi kelihatan membuat sebuah film yang komunikasi (meminjam istilah dia) dari sebuah film itu terpancar dari setiap tangkapan kamera. Maka, setiap pihak dilibatkan di sini, pemain maupun set. Heat dan Mystic River untuk sementara dipakai acuan, karena kebetulan (dan bisa pula disebut beberapa film lain) memakai cara penjabaran yang dekat dengan 9 Naga.

Sebelum ke gaya bertutur ala Clint Eastwood dan Michael Mann, perlu diberi gambaran sedikit mengenai gaya penggambaran ala film-film Jerman klasik. Pada film-film Jerman seperti M arahan Fritz Lang, optimalisasi gambar dan waktu dimampatkan dengan memberi kesempatan benda-benda mati untuk bersuara. Untuk membuatnya bersuara, maka Lang memberikan jiwa terhadap benda mati itu. Dengan montase perkampungan kumuh dari berbagai sudut, maka kengerian atas apa yang terjadi daerah itu bisa dibangkitkan. Dalam 9 Naga, yang dimanfaatkan untuk bersuara adalah sudut-sudut kumuh Jakarta.

Gaya Lang atau sineas Jerman klasik lainnya, yang bisa disebut sebagai montase organik karena montase yang dipakai menggunakan bahasa gambar yang sebenarnya sudah ada dalam tubuh film itu, efektif untuk menampilkan sebuah ambient. Sebuah kemencekaman yang terjadi oleh satu tokoh dan berdampak pada lingkungannnya. Dalam sinema kontemporer gaya ini menjadi sangat lumrah. Sudah ribuan yang memakai cara ini. Hanya saja ada beberapa film yang meningkatkan elemen ketercekaman di dalam montase itu, demi mendapat ambient yang pas dengan genre film itu.

Dalam film-film Michael Mann, montase macam yang dipakai Lang juga dimanfaatkannya. Mann di sini menampilkan kota Los Angeles. Los Angeles dibuat berjiwa dengan Mann membuat montase gedung-gedung diambil dari kejauhan agar dikesankan sebuah arogansi dari kota itu, atau menyorot ke lalu lintas kendaraan yang padat seolah menunjukkan ketiadaan toleransi. Lewat gambar-gambar benda mati atau ruang itu Mann juga sekaligus mau menyugestikan bahwa rasa ketercekaman itu timbul tidak semerta-merta, namun hasil dari interaksi manusia yang ada di dalamnya. Dalam Heat, maka manusia itu diwakili oleh tokoh-tokoh di dalam film. Tanpa tokoh-tokoh itu, montase tadi (juga dalam M) menjadi datar begitu saja.

Film Heat sempat menimbulkan pembicaraan, sebab di film ini dua aktor yang sedang jayanya dipertemukan, Al Pacino dan Robert De Niro. Di film ini pengayaan karakter memang dimaksimalkan. Mann memberi sentuhan yang agak berbeda dengan gaya tutur film drama berbalut laga (sekali lagi meminjam istilah Monty Tiwa) kebanyakan. Mann membiarkan film ini berjalan dengan durasi nyaris 3 jam, dengan memfokuskan pada dilema tokoh-tokohnya dengan urusan pribadinya masing-masing. Dengan cara ini, maka penonton akan kesulitan mencari siapa yang benar-benar berwarna hitam, seorang antagonis sejati. Maka, Heat pun membuat kisah klasik antara polisi dan penjahat menjadi sarat dengan luapan emosi.

Sah kalau 9 Naga mengingatkan orang pada Heat. Bedanya dalam 9 Naga, Rudi tidak berhasil menggariskan sebuah dilema emosional yang memuncak dari tiap karakternya. Konflik tiap karakternya dibuat mengambang, tapi juga tidak memancing orang untuk lebih terkesan. 9 Naga tidak memberi ruang bagi aktor-aktornya, karena dalam materinya tidak diberikan skema konflik yang membubung. Dengan kata lain sejujurnya konflik yang ada di sini datar, dan penyunting film ini bisa membuat film ini menjadi 45 menit saja karena versi yang diputar di bioskop ini terlalu bertele-tele. Di sisi lain, bingkai yang menampilkan sudut-sudut kumuh Jakarta atau sungai tempat mereka membuang mayat jadi tidak berjiwa. Seolah tampilan montase itu hanya berfungsi sebagi tempelan saja.

Ciri lain yang ada dalam Heat dan ditemukan dalam 9 Naga adalah bagaiman karekter perempuan ditempatkan di sini. Dalam Heat, karakter perempuan diperlakukan bak hewan kesayangan saja. Ia bisa mengganggu, tetapi tidak bisa merusak konflik utama dalam film. Ia bisa diberikan perhatian, tetapi perhatian utama tetap masalah konflik pribadi dari tiap karakter. Dalam Heat, kepentingan sang penjahat terhadap kekasihnya disingkirkan demi dendam pribadi. Sang polisi harus mengatasi problem dengan pacarnya sebelum ia mau melangkah ke problem inti. Di 9 Naga, sebelum Marwan melakukan langkah besar baginya, ia terlebih dulu mengurusi istrinya. Sebagai tambahan karakter Ajeng di film 9 Naga mungkin satu-satunya yang menonjol dari film ini. Seolah dengan penampilan dan akting sederhananya, walau terbata-bata oleh baris dialog yang terkadang kaku, ia bisa menyeruak dari kestatisan film ini.

Apa yang dilakukan Rudi untuk mengatasi problem waktu di dalam film adalah membiarkan karakter Marwan lebih banyak diam dengan wajah murungnya. Lenny dan Donny diberi porsi, tapi miskin maksud, karena mereka juga hanya disuruh muram saja. Tidak ada kisah di balik mereka, membuat karakter itu seperti karakter cerpen karangan siswa smp, kering. Rudi melempar tanggung jawab pengayaan bingkai film kepada aktor-aktornya tanpa bekal kekuatan dramatika yang kuat. Ibarat melempar penerjun payung dari pesawat terbang tanpa diberi parasut.

Keputusan membuat 9 Naga lambat dengan ‘melempar’ tanggung jawab kepada tiap tokoh-tokoh bisa merujuk pada keputusan Eastwood dengan memberikan kesempatan para aktor dan aktrisnya melampiaskan segala emosinya. Sudah menjadi ciri khas Eastwood ketika ia memberikan babak-babak yang panjang dalam filmnya, dimaksudkan agar karakterisasi yang dibawakan oleh aktor dan aktrisnya ditampilkan secara maksimal. Eastwood dalam menyiasati bagaimana waktu itu bisa terpadatkan di tiap bingkai film adalah dengan kisah yang disimpan di wajah tiap-tiap karakter. Setiap penonton akan terpancing untuk menonton sampai akhir sebab ada kisah di balik wajah Tim Robbins, Marcia Gay Harden, dan juga Sean Penn. Kisah itu disimpan dalam-dalam dan terlukis dari wajah-wajah misterius mereka. Lewat cara ini pula penonton seketika bisa membayangkan kisah di balik wajah-wajah itu, dan dengan sendirinya membuat rekaan kisah lain di benak mereka selama film berlangsung.

9 Naga tidak menawarkan wajah-wajah misterius itu. Penonton bisa berteriak kesal karena wajah muram itu menjadi begitu membosankan seiring dengan jalan cerita filmnya yang makin lama makin menggelikan. Bagaimana tidak menggelikan, seorang pembunuh kelas teri yang tinggal di daerah kumuh bisa jalan bebas ke mana saja padahal dia baru menembak mati seorang polisi. Belum lagi di adegan akhir di mana ‘musuh’ Marwan bisa melepaskan Marwan dan Lenny begitu saja dengan sebelumnya membiarkan mereka bertangis-tangisan. Penjahat yang fair ternyata!

Tidak ada hal yang menggugah, sepanjang film semua sudah diungkap. Penonton sudah diberi tahu masa lalu mereka, juga masa depan mereka. Ketika Marwan sempat gagal mendapat rumah baru karena kurang uang, penonton sudah bisa dengan mudahnya meraba bahwa film ini sedang mengarah ke sana. Itulah ‘surga’ yang akan diraih Marwan, atau minimal yang orang ia cintai.

Sebenarnya masih sangat banyak hal yang mengganjal dari film 9 Naga. Memang disayangkan bahwa film yang digembar-gemborkan seolah bakal menjadi Godfather atau Infernal Affair Indonesia ternyata terbentur masalah teknis. Sekaligus juga dramaturgi film ini masih sangat lemah. Pembabakannya terlalu bertele-tele dan kelihatan miskin maksud. Belum lagi bahasa sinematografi yang cenderung memperlihatkan sudut pengambilan kamera yang itu-itu saja. Satu catatan lagi adalah kejanggalan ketika si Marwan yang selalu menyebut teman-temannya bencong. Seorang warga Jakarta ketika mengucapkan sumpah serapah maka juga ditanggapi sebagai sumpah serapah. Entah mengapa Lenny yang notabene adalah pembunuh bayaran harus diberitahu oleh Marwan bahwa ia tidak sungguhan menyebut bencong. Sebenarnya tidak enak melontarkan kritik atas film berdasarkan ke-nonsens¬-an di dunia realita lalu dilempar ke apa yang ada di film. Hal ini terpaksa dilakukan, karena ketidakmasukakan itu dipandang menjadi timpang dari bahasa gambar ke pendekatan realis yang Rudi kembangkan.

Mungkin terlalu kejam kalau 9 Naga divonis sebagai sebuah karya sampah, namun juga sebuah pernyataan yang melecehkan jika film itu disebut mahakarya. Seperti diketahui, lewat berbagai konfrensi pers, Rudi selalu berkoar-koar bahwa filmnya ini mampu memberikan ‘penyembuhan’ bagi masyarakat Indonesia. Ia juga selalu meyugestikan bahwa setelah menyaksikan film ini, maka penontonnya akan mendapatkan pencerahan. Memang sikap Rudi seperti ini terasa aneh, sebab seorang sineas atau pekerja seni lain dimana-mana tidak terbiasa mendengungkan jargon bak tukang obat. Pada akhirnya memang disayangkan seorang sineas peraih Piala Citra membuat karya yang kelihatan malas, dan tidak diolah matang. Kalau kebiasaan sineas lokal yang membuat film dengan prinsip ‘yang penting lain’ seperti ini dipertahankan, maka gerak perfilman dalam negeri juga bisa dipastikan melambat.

Advertisements
Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: