El Topo | Dibedah dengan Pisau Feminisme

Di balik janggutnya, Jodorowsky memiliki pendapat yang tajam soal perempuan

Di balik janggutnya, Jodorowsky memiliki pendapat yang tajam soal perempuan

Sergio Leone lewat trilogi Nameless Cowboy plus satu film berjudul Once Upon A Time in The West begitu membahana karena berhasil mengangkat sebuah genre yang acapkali disebut picisan, film koboi, menjadi berkelas. Gaya sinematiknya mampu mencampur gaya aksi laga gaya film koboi lawas yang terkenal dengan ikon John Wayne dengan tema-tema yang lebih berkarakter, seperti sejarah Amerika. Sergio Leone pun dianggap menjadi pionir spaghetti western, sebuah genre yang dibuat untuk membedakan (menyindir) dengan film-film koboi penuh aksi namun miskin tema.

Maka resmilah Leone membunuh John Wayne. Sayangnya, ‘kemenangan’ Leone tidak lah bertahan lama. Beberapa waktu berselang, muncul sutradara ‘ajaib’ Alejandro Jodorowsky yang dengan penampilan yang tidak semewah film-film Leone, namun dahsyat dalam memproyeksikan ideologi yang ia usung. El Topo adalah satu dari sedikit film kecil yang menakjubkan. Tanpa promosi besar, tanpa bintang-bintang hollywood kelas atas, El Topo mampu menunjukkan secara lengkap bagaimana sebuah film menjadi sebuah media simbolik yang kuat. Satu peluru keluar dari peluru yang ditembakkan dengan hening oleh Jodorowsky, menembus jantung Leone.

El Topo tidak terekam dengan seadanya. Kelihatan sekali adegan per adegannya dipikirkan betul. Menyaksikan El Topo, juga seperti menyaksikan film-film Jodorowsky lainnya, seperti melihat apa yang menjadi nafas dari sineas itu. Sosok Alejandro Jodorowsky, sineas Meksiko kelahiran Soviet ini sendiri merupakan sosok yang absurd. Ia adalah sosok yang penuh ambiguitas, hal yang juga kelihatan dalam film-filmnya. Di satu sisi ia menyatakan diri sebagai seorang pembaca setia Bakunin, namun di film Santa Sangre ada sebuah makna tersirat bahwa orang sepatutnya punya kerinduan akan sosok pemerintah. Di satu sisi ia adalah seorang yang religius, dengan simbol-simbol keagamaan bertebaran di setiap bingkai film-filmnya, namun kita tidak bisa melihat sebuah satu kesatuan simbol utuh yang berepresentasi kepada sebuah kelompok religius tertentu.

Kita melihat sebuah simbol handless God, seperti yang kerap dihayati oleh sebagian Katolik di Meksiko, namun di filmnya simbol itu justru tidak mengacu ke Kekatolikan. Intinya dunia Jodorowsky adalah dunia yang campur aduk, hal yang membuat kritikus film sulit sekali menerjemahkan film-filmnya. Hal yang juga di satu sisi menjauhkan filmnya dari popularitas, tidak seperti halnya film-film Sergio Leone.

Namun, dari segala polemik isu yang Jodorowsky hendak usung, sebenarnya tema yang paling kentara dari film-filmnya adalah tema yang juga kerap kaum feminis usung. Film-filmnya sendiri adalah sebuah protes atas hegemoni patriarki. Hebatnya lagi, ia mampu secara memberi simbolisasi yang distingtif soal problem itu. Artinya, ia dengan lihainya memberikan pengertian patriarki yang jelas, dan memberi pemahaman bahwa patriarki itu tidak semata-mata hidup dalam makhluk laki-laki, tetapi ia kelihatan memberi arah bahwa patriarki yang ia serang adalah semangat patriarki yang bisa menghinggapi laki-laki maupun perempuan. Perspektif ini jarang sekali diangkat oleh sineas.

El Topo adalah sebuah film yang paling keras dalam memojokkan patriarki. Walaupun Jodorowsky memilih membuat film itu penuh dengan simbol, namun arah serangan itu tetap terasa. Meskipun begitu, karakter sang sutradara masih menempel di film ini. Saat El Topo dipahami sebagai film yang damai dan penuh nilai spiritual, hal yang memihak nilai feminisme, secara umum justru film ini penuh dengan darah dan adegan kekerasan yang eksplisit. Inilah satu sisi yang menggambarkan keambiguitasan seorang Jodorowsky, memunculkan ironi terhadap karya-karyanya. Memang, untuk pilihan sudut pandang ini, Jodorowsky lebih suka membuat penggambaran ekstrim terhadap film-filmnya. Ia bukan Spielberg atau sutradara hollywood lainnya yang bisa berkompromi dalam mengemas film agar layak ditonton siapa saja.

Jodorowsky tidak suka pilihan hollywood, karena ia ingin pemahaman atas musuh yang hendak ia serang kelihatan secara riil, dan tidak dimain-mainkan oleh pilihan sinematik yang memperhalus adegan yang tampak.

Untuk melihat bagaimana Jodorowsky menunjukkan jati diri keberpihakan atas dunia androgini yang diidamkan oleh kaum feminisme, film ini bisa dilihat dari berbagai sudut pandang teori. Genetik tokoh utama film ini, Sang Tikus Tanah (terjemahan dari El Topo) adalah seperti yang digambarkan oleh Freud. Ia adalah ayah yang mengurung anaknya dalam fase Oedipus. Ketika Sang Ibu tiada, maka itu adalah saat yang tepat untuk mentransformasikan anaknya menjadi lelaki tulen, tanpa harus tergantung atas sosok ibu lagi. Dunia Sang Tikus Tanah ketika ia tua adalah sebuah dunia kapitalis yang sarat dengan simbol iluminati. Di dunia ini masyarakatnya hidup pada androginitas semu, ketika perempuan dan laki-laki hidup berdampingan, namun mereka mencintai hidup yang penuh kekerasan dan penindasan terhadap kaum lemah, kaum budak dan kaum cacat misalnya.

Membahas film ini secara keseluruhan pun tidak berkaca pada ujaran-ujaran eksplisit dari sang sineas itu sendiri. Jodorowsky tidak berkomentar macam-macam soal filmnya sendiri. Ia hanya menyatakan bahwa ia senang telah berhasil membuat sebuah dongeng koboi versinya. Maka, melihat aspek feminitas dari film ini murni merujuk pada pemahaman yang subyektif. Hal yang juga diujarkan oleh Julie Kristeva. Kristeva menyatakan bahwa sebuah film yang merupakan proses manipulatif seorang sutradara, tadinya merupakan sebuah media atas ide dasar dari sang sineas. Namun, ketika film itu muncul, si pembuat tidak campur tangan lagi atas penilaian dari penonton, dari subyek. Lewat subyek, faktor masa lalu masih kuat dalam memberi penilaian, maka aspek simbolisasi dalam film bisa berubah sesuai dengan keadaan dari subyek. Patriarki yang terbiasa menyempitkan pemaknaan pun akan dengan sendirinya kalah kalau pemahaman subyek ini bisa berjalan. Bernafaskan pada semangat ini, pembahasan soal film ini akan dilanjutkan dengan menjelaskan inti cerita dan bagian-bagian penting dari film ini, diikuti dengan simbolisasi yang diusungnya.

Film El Topo dimulai dengan sebuah inisiasi seorang bocah yang kira-kira masih sembilan tahunan yang hendak dijadikan laki-laki dewasa oleh ayahnya. Sang ayah, yaitu Sang Tikus Tanah itu sendiri, mengatakan bahwa saatnya anak itu mengubur foto ibunya dan boneka beruang yang biasa anak itu bawa ke mana-mana. Setelah ritual itu, Sang Tikus Tanah lalu menunggang kuda bersama anaknya yang sudah dianggap menjadi dewasa. Mereka tiba di sebuah desa yang penduduknya sudah dibantai habis. Lalu Sang Tikus Tanah menyuruh anaknya untuk menembak satu warga tersisa, atas permintaan warga itu sendiri, menghindari diri dari penderitaan.

Bagian awal dari film ini merupakan sebuah bagian yang lekat dengan penggambaran fase Oedipus yang diutarakan Freud. Sang anak seperti harus dihindari untuk menjadi anak mama, dengan melupakan sama sekali figur sang ibu. Saat hal ini sudah dilakukan, maka ia pun dibuat untuk bisa bertindak seperti laki-laki dalam gambaran ayahnya. Faham patriarki pun pelan-pelan ditanam. Ketika anak itu disuruh menembak mati, maka ini merupakan simbol bahwa sifat patriarkis yang memilih jalan kekerasan ditanamkan dalam pilihan moral sang anak. Fase inisiasi menjadi laki-laki dewasa seperti pada bagian awal film ini juga muncul dalam film Jodorowsky lainnya, Santa Sangre. Sepertinya ia mengambil tradisi Katolik, yaitu pemberian Sakramen Krisma yang merupakan tanda seorang Katolik terbaptis telah menjadi dewasa.

El Topo lalu menemukan bahwa pembantai desa itu adalah seorang jendral megalomaniak dengan beberapa anak buahnya. Sosok jendral ini sebenarnya cukup unik. Saat ia masih terbaring pagi-pagi di tempat tidur dengan hanya berpakaian dalam, maka jendral ini dibuat kelihatan begitu lemah. Ia dengan keadaan seperti itu bermanja-manja kepada istrinya, minta diangkat, dimandikan, lalu dipasangkan pakaian kebesarannya. Namun, keadaan berubah ketika ia sudah berpakaian lengkap. Saat tanda pangkat sudah melekat di pundaknya, ia tidak lagi menjadi sosok yang lemah. Ia adalah jendral yang keras dan tidak lagi patut manja terhadap istrinya. Di sini digambarkan bahwa ia tidak lagi bergantung pada sang istri, dan bahkan cenderung kasar dengan seenaknya memukul istrinya.

Scene ini merupakan sebuah scene yang singkat, namun mampu menggambarkan proses transformasi sifat gender dengan begitu menggigit. Di sini patriarki digambarkan sebagai simbol, bukan hal bawaan atau pun sesuatu yang genetik. Sang Jendral menjadi patriarki ketika simbol patriarki itu melekat, ketika pakaian kebesarannya lengkap dengan tanda pangkat yang menyemat di pundaknya melekat. Secara sinematik, bagian ini begitu lengkap, dengan tata interior yang pas.

El Topo lalu berduel dengan Sang Jendral, seperti yang banyak tampil pada film-film koboi. El Topo menang, namun ia tidak langsung menghabisi Sang Jendral. Ia menyerang simbol-simbol patriarki yang melekat di tubuh Sang Jendral, dan menelanjanginya habis. Ketika ia sudah menjadi lemah dengan keadaan telanjangnya, lepas dari pelekatan simbol kebesarannya, El Topo lalu dengan santai membunuhnya dengan sebilah pisau.

El Topo lalu dielu-elukan dan juga didoakan oleh sekelompok Pastur Fransiskan yang sempat menjadi bulan-bulanan anak buah Sang Jendral. Istri Sang Jendral pun pindah ke pelukan El Topo. Hal yang lumrah terjadi di dunia patriarki, yaitu menganggap bahwa ketika bisa menguasai perempuan, maka ia sudah bisa dinyatakan semakin jantan dan berkuasa. El Topo meninggalkan tempat itu bersama kekasih barunya, meninggalkan anaknya kepada para pastur Fransiskan itu.

Saat El Topo menyerahkan anaknya, ia memilih jalan bersama seorang perempuan dewasa. Seorang laki-laki tentu memilih menguasai seorang perempuan ketimbang menguasai anak kecil. Di satu sisi ia bisa mendapatkan lebih banyak ketimbang hanya menggiring anak kecil, di sisi lain seorang laki-laki bisa kelihatan lebih adidaya ketika ia mampu menguasai seorang perempuan. Apalagi perempuan itu punya kapasitas sebagai mantan istri seorang jendral yang pernah berkuasa.

Sang perempuan lalu membisikkan El Topo bahwa ia harus menjadi yang terkuat di dunianya. Ia melihat ada empat jagoan lain yang harus El Topo taklukkan. Di perjalanan EL Topo dibantu satu perempuan lain dalam mencari jagoan-jagoan yang harus dihabisinya. El Topo menurutinya. Sampai kepada jagoan keempat, seorang pertapa yang sudah sangat tua, ia tidak punya kesempatan untuk menghabisinya. Pertapa itu dengan sukarela membunuh dirinya sendiri dan mengatakan bahwa sebenarnya El Topo tidak menang. El topo menangis. Walaupun keempat jagoan itu telah mati, namun ia tidak benar-benar mengalahkan jagoan yang terakhir. Di sisi lain, kekasih baru El Topo malah jatuh hati pada perempuan lain dan meninggalkan serta menembak El Topo.

El Topo di bagian ini telah runtuh sebagai simbol patriarki. Perempuan mantan istri jendral itu ternyata memahami bahwa ia bisa menguasai El Topo, dengan memanipulasinya untuk mengalahkan keempat jagoan. Ketika keempatnya mati, maka tidak ada lagi yang bisa membunuh penguasa di daerah itu. Terlebih lagi El Topo telah ia tembak. Perempuan itu pun menjelma menjadi sosok yang patriarkis dengan menguasai perempuan lain dan menembak El Topo.

El Topo walau ditembak tidak lah mati. Ia diselamatkan oleh sekelompok orang cacat. Bertahun-tahun ia hidup dalam keadaan koma. Dalam keadaan itu, para orang cacat itu menyembahnya, menganggapnya sebagai dewa mereka. Pun El Topo sadar dari komanya. Ia tidak menolak ketika ia diminta mengemban tugas dari para orang cacat. Bersama perempuan kerdil, ia keluar dari komunitas orang cacat itu untuk ke dunia luar.

Dunia luar ternyata di luar dugaan EL Topo. Penuh dengan simbol iluminati, ternyata dunia itu lebih menyukai adegan kekerasan dan penindasan ketimbang hal yang sifatnya damai. El Topo yang bersama perempuan kerdil itu mencari uang dengan pantomim, ternyata harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak bisa maksimal. Di tempat yang sama, terdapat satu pastur Fransiskan yang mengunjungi kota iluminati itu. Ia bermaksud membebaskan komunitas itu dari penyembahan yang salah.

El Topo lalu memutuskan untuk menikahi perempuan kerdil itu, setelah mereka diolok-olok oleh kaum elit di daerah itu. Namun, ketika mereka tiba di gereja, El Topo kaget saat mengetahui bahwa pastur Fransiskan itu adalah anaknya yang ia tinggal dulu. Sang anak marah dan hendak membunuh ayahnya sendiri. Perempuan kerdil itu memintanya menunda keputusan itu, karena El Topo masih punya tugas yang harus diselesaikan. Saat tugas itu selesai, semuanya sia-sia. Penduduk kota menghabisi para orang cacat, yang mengakibatkan EL Topo terpaksa mengambil jalan kekerasan, menghabisi kaum elit yang membunuhi orang-orang cacat itu.

Di bagian terakhir, dunia penyembah iluminati itu digambarkan androgini. Perempuan memegang senjata, dan bertindak menindas dengan mengerjai orang negro hingga negro itu dihukum mati. Laki-laki pun merasa lumrah untuk memakai pakaian wanita dalam kesempatan-kesempatan tertentu. Di sini diperlihatkan bahwa laki-laki dan perempuan di kalangan elit berdiri sejajar. Tentu itu bukanlah sebuah dunia androgini dalam dunia feminis yang ideal. Gambaran ini adalah sebuah olok-olok, ketika hal yang dirasa ideal ternyata hanya diambil permukaannya. Sifat yang menjadi biasa untuk dunia kapitalis. Iluminati sendiri adalah simbol new world order, yaitu sebuah gerakan (entah itu ada atau tidak) yang mendambakan sebuah dunia yang satu kekuasaan.

Saat Sang Anak memilih membunuh El Topo, ia pun memutuskan untuk memakai pakaian ElTopo yang lama. Di sini seolah terlihat bahwa ia kesal mengabdi pada simbol kedamaian, karena hal itu juga diemban oleh El Topo. Sang Anak ternyata menjadi dewasa dengan sosok yang sama dengan sosok yang ia benci. Maka, ia memilih untuk berbeda dengan memakai simbol kekerasan. Sang Anak lalu memakai pakaian koboi, lengkap dengan senjata di pinggangnya.

Di bagian ini pula Jodorowsky dengan jernih memberi sebuah simbol yang bisa dikatakan sebagai feminis yang ideal. Sosok perempuan kerdil itu merupakan feminis yang ideal, sebab ia bersikap menguasai El Topo. Ia juga menjadi penyelamat El Topo ketika El Topo hendak dihabisi anaknya sendiri. Jalan Si Perempuan Kerdil adalah jalan perdamaian.

Setelah melihat semua aspek di film El Topo, maka kelihatan bahwa berhamburannya simbol di situ bisa ditanggapi berbagai cara. Bisa saja menggunakan pendekatan religius, karena di film itu sendiri simbol-simbol spiritual ditempelkan. Film ini kecil, nyaris tidak terdengar, namun materi yang diusungnya begitu hebat. Masterpiece Alejandro Jodorowsky ini memang patut mendapat apresiasi lebih.

Advertisements
Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: