Dreamgirls | Blaxploitation Versi Mainstream

Sosok tiga diva diinspirasi dari The SupremesSaat menyaksikan Dreamgirls (atau bagi yang sudah menonton) coba bayangkan kalau dialog yang dimusikalisasi di film ini disulap menjadi dialog mentah. Kalau visualisasi seperti itu berhasil dilakukan, maka Dreamgirls akan sekadar menjadi tontonan yang sangat klise. Film ini dari segala tuturan kalimat per karakter dan bagaimana cerita berjalan dalam sebuah plot nyaris tidak ada yang bisa bikin berkesan. Semua dibikin dengan sangat sederhana. Tetapi, untungnya film ini tidak terdiri hanya atas kata-kata yang terlontar datar. Saat kita menonton film ini, bagi yang suka dengan musik-musik yang menjadi ciri khas orang kulit hitam Amerika, bisa dipastikan terpukau dengan tata musik dan juga tentunya penampilan dari yang membawakan.

Dreamgirls memang mencoba untuk menjadi sebuah tontonan musikal alternatif. Film ini memang muasalnya dari drama Broadway, tetapi menjadi unik karena diadaptasi dengan gaya yang berbeda dari versi film dari Broadway seperti Chicago misalnya. Di film ini kental sekali nuansa kekulithitamannya. Musik yang mengalun begitu enak dinikmati, sekali lagi bagi yang suka dengan musik jenis ini. Semua terdengar begitu memukau.

Musik dan lagu yang tertata dengan sangat rapi ini memang faktor penolong dari film ini. Seperti yang sudah disebut tadi, tidak ada yang bisa ditawarkan dari film ini dari segi dramaturgi dan cerita. Tapi soal musik, orang bisa begitu kagum dengan apa yang syahdu dinyanyikan oleh setiap pemeran di film ini. Bagi yang belum menyaksikan, siap-siap terlena dengan satu adegan yang begitu kuat dikuasai oleh Jennifer Hudson. Tentunya ia bernyanyi dengan kualitas vokal yang di atas rata-rata di situ.

Dreamgirls asalnya adalah sebuah drama Broadway yang pertama kali tampil tanggal 20 Desember 1981. Pentas teatrikal ini disebut-sebut telah dipentaskan selama 1.522 kali. Ceritanya sendiri disebut-sebut terinspirasi dari perjalanan karir The Supremes. Tidak heran kalau Hollywood melirik cerita ini dilihat dari kesuksesan penampilan drama musikal ini. Selain itu cerita ini merupakan sesuatu yang jarang dari kebanyakan cerita-cerita Broadway. Boleh dikata kalau Dreamgirls merupakan satu dari contoh drama teater yang banyak mengangkat problem-problem ras, terutama kulit hitam, di Amerika meski hanya secipratan.

Film Dreamgirls memang bisa dilihat dari sudut pandang tertentu. Sebagai sebuah film di mana tema dan groove kulit hitam begitu kental, seperti mengingatkan pada fenomena yang terjadi di perfilman di tahun 70-an. Ketika itu Hollywood membombardir penonton dengan film-film dengan karakter kaukasian yang macho dan patriotik. Hal ini tentu menimbulkan antipati bagi warga kulit hitam. Maka, sutradara-sutradara kulit hitam yang ingin memberikan tontonan lain bagi audiensnya pun membuat film dengan jagoan yang juga kulit hitam. Maka, di era itu bisa dikatakan muncul sebuah arus film-film yang mengusung kekulithitaman, disebut Blaxploitation.

Blaxploitation memberi karakter yang kulit hitam, dialog kulit hitam, dan tentunya musik yang khas kulit hitam. Dengan Blaxploitation diharapkan orang afro amerika bisa mendapat tempat di perfilman. Muncul di situ film-film yang terkenal seperti Shaft, Foxy Brown, Coffy dengan bintang-bintang seperti Pam Grier dan Richard Roundtree. Dreamgirls mungkin tidak terlalu pas dikatakan sebagai Blaxploitation, karena stereotip Hollywood sebagai white man rambo movies sudah tidak begitu kental di masa sekarang. Tapi, tentu keberadaan film boleh dikatakan memiliki filosofi yang mirip, memberi tempat terhadap sebuah kultur ras.

Secara kesuluruhan, jika tidak mau dianggap film ini sebagai suara afro amerika, bisa dikatakan Dreamgirls menghibur. Dan, untuk ketiga kalinya dikatakan, film ini bisa menjadi hiburan bagi mereka yang menikmati musik yang groovy dinyanyikan penyanyi seperti Diana Ross atau James Brown. Tetapi, tanpa musik film ini hambar. Tanpa musik dan lengking serta kencantikan Beyonce, kita hanya menyaksikan film dengan plot cerita datar seperti ditulis oleh penulis skenario amatiran.

Advertisements
Tagged , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: