In the Name of the King: A Dungeon Siege Tale | Film Uwe Boll yang Berhasil Bikin Pusing Bikin Muntah, Secara Harfiah

Tidak, Jason Statham bukan jaminan mutu sebuah film

Ini mungkin merupakan ulasan film yang buruk. Ulasan film yang buruk salah satu syaratnya adalah pengulasan yang dilakukan tanpa menonton filmnya tidak selesai. Jadinya ulasan itu dipandang hanya sebagian, tidak semuanya. Ulasan film juga menjadi buruk kalau dia menyugestikan pembacanya untuk tidak menonton film yang menjadi topik. Ia boleh memberi penilaian negatif, tapi pada akhirnya tidak bisa menyarankan pembacanya untuk melarang menonton film tersebut. Sayang sekali ulasan ini terpaksa dilanjutkan sebagai ulasan yang buruk dengan kriteria di atas. Ini untuk kebaikan yang lebih besar. Film Dungeon Siege adalah film itu. Sebut segala kriteria sebuah film yang buruk, film ini sanggup melingkupi itu semua. Penyutradaraan yang lemah, plot cerita yang berantakan, penggunaan teknologi perfilman yang serampangan, tata kamera yang menjengkelkan, semua ada. Semua bisa disimpulkan hanya dari 20 menit pertama film tersebut.

Tidak ada kesan bahwa Uwe Boll ingin membuat nyaman penontonnya. Dengan editing dan tata kamera yang tampak seperti bencana ini, sulit menjamin orang bisa menikmatinya. Ini ibarat naik roller coaster dan berada di bis malam dengan supir ugal-ugalan di jalanan Padalarang yang berliku-liku.Naik roller coaster memang di satu sisi tidak menyenangkan. Tapi ada sensasi dari hal itu. Hal memabukkan yang sekaligus seru. Beda kalau naik bis malam ugal-ugalan. Itu murni sesuatu yang menyebalkan meski sama-sama bikin mabuk. Dungeon Siege ibarat itu. Naik bis di mana sang supir tidak niat untuk membuat kita nyaman. Pokoknya asal sampai tujuan. Tata kamera yang memusingkan memaksa ulasan ini perlu dibuat meski baru seperlima ditonton. Plot yang acak kadut dan tidak ada juntrungannya membuat hal itu makin menyeramkan. Entah apa yang ada di pikiran nama-nama seperti Leelee Sobieski, Jonathan Rhys Meyer, Ray Liotta, Jason Statham, Claire Forlani, dan Burt Reynolds mau main di sini. Mungkin sebelumnya Boll membuat mereka giting habis-habisan dengan ganja yang baru dibeli murah dari anak kampus baru tawaran kontrak film ditawarkan ke mereka.

Sebenarnya ada beberapa hal yang membuat film ini agak lebih baik dari film-film Uwe Boll sebelumnya seperti Bloodrayne. Dialognya sedikit lebih baik. Tapi itu tidak membantu. Di sisi lain kita dipaksa menyaksikan perpindahan scene per scene yang cepat tapi terlihat asal-asalan. Dipastikan film-filmnya akan dikenang sebagai karya terburuk yang dibuat oleh satu sutradara. Hebatnya lagi para bintang yang sudah punya nama masih terus tertarik untuk terlibat dalam produksinya. Akhir kata, orang harus pikir-pikir ratusan kali kalau niat menyaksikan film ini. Bahkan untuk menyaksikannya lewat DVD bajakan hasil pinjaman teman pun tetap perlu pertimbangan seperti itu. Film ini berdasarkan dari video games seperti film-film Boll lainnya. Tentu jauh lebih seru main game Dungeon Siege. Jauh lebih menyenangkan dan jauh lebih sensasional.

Advertisements
Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: