Switchblade Sisters | Heroine dari Tumpukan Film Tak Tersentuh

Lace si bengal jutek sumber masalah. Julliete Lewis ala 70an

Heroine atau jagoan cewek memang jadi salah satu formula buat sebuah media bercerita supaya sukses. Di film, ada contoh seperti Ripley di seri Alien. Di video games, ada Samus di Metroid dan dilanjutkan oleh Lara Croft yang bikin geeks bisa ngocok sambil main. Walau pada awalnya adalah Ms Pacman. Tapi, ngebayangin ML dengan Ms Pacman mungkin sebuah kelainan.  Ada yang bilang itu adalah dorongan psikis pemainnya untuk melindungi perempuan. Namun, bisa juga karena lain faktor seperti menganggap heroine adalah teman fantasi pemirsa atau pemainnya.  Banyak faktor, tapi perkenankan sebuah film, Switchblade Sisters, diulas untuk jadi referensi dan inspirasi atas film dengan jagoan perempuan di masa kini.

Menyebut Switchblade Sisters sebagai inspirasi bukanlah sebuah argumen asal-asalan. Quentin Tarantino sendiri yang menyebut bahwa ini adalah salah satu inspirasinya di karyanya paska Jackie Brown. Jika dilihat secara sekilas, memang banyak sekali referensi yang dia ambil dari film ini. Satu contoh saja adalah karakter Elle Driver di Kill Bill seperti gabungan semua karakter perempuan brutal di Switchblade Sisters dengan fisik Patch, salah satu karakter di film ini, dan One Eye di film Thriller. Nyawa dan nuansa perempuan-perempuan pembunuh bayaran di Kill Bill sendiri seperti lahir dari kumpulan geng perempuan yang digambarkan dengan seru di sini.

Switchblade Sisters secara garis besar merupakan film yang mengkisahkan pergolakan sebuah geng khusus perempuan. Geng ini menunjukkan tajinya setelah geng-geng besar ditangkap polisi dan menyisakan para perempuan bengal ini. Kekuasaan ini lowong, itu kenapa mereka mengambil alih dunia bawah tanah dan terjadi peperangan baru dengan pemain baru. Karakter sentralnya adalah Maggie seorang gadis yang diserang Dagger Debs – nama geng perempuan itu – tapi bisa melawan dan akhirnya mendapat simpati dari anggota Dagger Debs sendiri. Simpati untuk Maggie membuat Lace si pemimpin Dagger Debs cemburu setengah mati dan berusaha menyingkirkannya.

Selanjutnya bisa ditebak. Konflik yang ditebar sudah sinetron banget, namun tanpa diselesaikan dengan tatap wajah dan close up berulang-ulang melainkan dengan pisau. Dibuat kartun fabel, film ini bakal jadi versi cewek tom vs sylvester vs scratchy yang cakar-cakaran tiada henti. Yap, ciri khas B movies. Jack Hill yang memang sutradara film ala grindhouse sudah setia memamerkan premis seperti ini.  Nuansa kelam, tidak bersahabat, keras, sudah jadi darah dan daging film dengan tipe perilisan seperti ini. Gritty, sesuatu yang keren di era sekarang tetapi dulu tema ini tidak diterima secara luas.

Femme fatale film ini memang tidak seperti di film Alien atau Halloween. Ini merupakan sisi antagonis sebuah heroine film , meski tokoh utamanya ada di sisi yang salah tapi penonton tetap saja dipersepsikan bahwa dia jagoan. Sesuatu yang sudah ada di dunia film sejak lama. Semua karakter seperti inkarnasi dari Varla si toket gede di Faster, Pussycat! Kill! Kill! Varla kan karakter yang tidak ada belas kasihan, tapi menyaksikan Faster, siapa yang bakal melupakan sepak terjangnya. Dari Varla, Lace, Elle Driver, sampai para ibu rumah tangga di Desperate Houswives, perempuan sinting selalu ada di dunia sinema. Film ini hanya meneruskan tradisi.

Memakai perempuan sebagai sentral pegolakan cerita juga bukan sesuatu yang jamak. Hollywood kental dengan phallus yang heroik. Seperti Tarantino mengolok dengan cara jenaka untuk film-film bertema Nazi di Inglorious Bastdeds, Jack Hill juga memberikan kontra tema ke penonton. Jika orang mendambakan melihat sebuah cat fight, nah di film ini semuanya tersedia.  Berantem satu lawan satu, perang dengan senjata penuh, kelahi di penjara, intrik-intrik selingkuh, apa yang kurang dari sebuah konflik antar perempuan. Seperti yang sudah disebut, sinetron tapi menggunakan cakar!

Sebagai orang yang gemar film-film Quentin, menyaksikan Switchblade Sisters dan film-film Jack Hill lainnya adalah keharusan. Menonton dengan kepala yang sama digunakan seperti menonton film ‘bermutu’ di bioskop memang mengakibatkan kebetahan menonton Switchblade Sisters hanya sampai 10 menit pertama. Mari menyaksikan film ini bukan demi dihibur tapi sebagai salah satu karya sineas yang memberi pengaruh ke sineas lain. Tidak hanya ke Quentin, karena Maggie dan geng barunya The Jezelbels bisa mewujudkan diri ke dalam bentuk perempuan apapun.

Advertisements
Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: