Fire and Ice | Heroisme Produksi Sebuah Film Animasi Rotoscoping

Fire and Ice Image

Jangan berharap ada adegan seks sevulgar Fritz the cat di film ini.

Rotoscoping walau asing sebenearnya merupakan salah satu teknik tua di dalam dunia animasi. Di dunia pop masa kini, contoh teknik ini bisa ditemukan di video musik Kanye West, Heartless. Salah satu sutradara yang menggunakan teknik ini dan diterapkan dengan metode digital adalah Richard Linklater yang terkenal dengan Waking Life dan A Scanner Darkly. Di masa lalu, teknik ini digunakan di film Snow White and Seven Dwarfs dan film kartun Betty Boops. Pada dasarnya teknik ini adalah sebuah animasi di mana ilustrator dan animator meniru gerakan sebuah aksi hidup yang direkam secara  frame ke frame. Dengan peniruan ini akan dihasilkan sebuah gambar yang memiliki animasi gerakan lebih hidup. Disebut rotoscope dari nama alat yang digunakan untuk teknik ini. Sekarang proses rotoscoping jika masih digunakan sudah memakai media komputer.

Ralph Bakshi adalah satu dari sedikit sineas yang menggunakan teknik ini dalam beberapa filmnya.  Filmnya bahkan tidak mendapat banyak apresiasi, padahal dia adalah yang pertama kali memfilmkan Lord of The Rings dengan teknik ini jauh sebelum Peter Jackson menghentak dunia lewat triloginya.  Sebagian besar film animasi karya Ralph Bakshi memang tidak diterima secara luas, kebanyakan karena alasan komersial. Namun, meski secara materi dinilai tidak begitu menarik, proses produksi setiap film terutama Fire and Ice patut mendapat acungan jempol. Ketika melihat cuplikan bagaimana film ini dibuat, maka meski film ini tergolong kecil tetapi tetap dibuat dengan kemauan yang kuat.

Menyaksikan proses produksi dari Fire and Ice memang memperlihatkan bahwa membuat animasi apapun tekniknya bukan perkara mudah. Untuk sebuah frame saja membutuhkan lebih dari satu unit, mulai dari tracer , ilustrator, colorist, dan supervisornya yang menjaga kualitas. Tidak jauh beda dengan proses film animasi biasa, namun di sini ada keterlibatan Ralph Bakshi sebagai sutradara untuk membuat footage dari semua adegan yang digunakan sebagai materi untuk disalin. Dari setiap adegan, frame per frame dicetak menjadi foto dan diserahkan ke tracer untuk disalin gerakannya satu-satu. Bayangkan jika satu detik ada 24 adegan yang harus dicetak, untuk satu jam butuh berapa cetak foto.

Filmnya sendiri sangat sederhana. Murni bercerita soal putri yang diculik oleh pihak lawan lalu jagoan yang tiba-tiba datang untuk menyelamatkan sang putri dan membebaskan dunia dari kehancuran. Tema yang jamak di hampir semua cerita kepahlawanan. John Carter yang diberi bujet 250 juta dolar saja memiliki jalan cerita yang sama. Dengan tema fantasi, film ini memiliki nafas yang sama dengan Conan The Barbarian atau He-Man. Di jamannya memang tema seperti itu lagi laris. Lepas dari itu semua, animasinya tetap luar biasa. Ini film dengan bujet lumayan besar untuk ukurannya, 1,2 juta dolar. Jadi, wajar jika secara produksi film ini dikerjakan dengan baik.

Secara finansial memang film ini mengecewakan produsernya. Namun, film-film animasi Ralph Bakshi mendapat apresiasi tinggi di kemudian hari. The Online Film Critics Society bahkan memasukkan film ini dan ketiga lainnya : Lord of The Rings, Fritz The Cat (film animasi X-rated pertama yang juga memamerkan adegan seks), dan Coonskin dalam daftar 100 film animasi patut dikenang sepanjang masa. Menyaksikan proses produksi film ini merupakan salah satu cara untuk melihat bagaimana film ini perlu diapresiasikan. Gore Verbinski dalam catatannya untuk film Rango mengatakan bahwa Bakshi dan film-filmnya memberi spektrum berbeda terhadap animasi. Dia memang salah satu sineas yang mencoba mencabut film animasi dari pengkotakan kategori film anak.

Fire and Ice memang satu dari sekian banyak proyek Bakshi yang akhirnya dirilis. Dia memang memiliki tabiat keras kepala dan selain film-filmnhya yang kelar, terdapat puluhan proyek lain yang terpaksa dibatalkan karena berbagai alasan. Fire and Ice sendiri sempat tersendat dan hampir dihentikan. Bakshi dalam wawancaranya di 19 Maret 2012 mengatakan niatnya untuk membuat Wizard 2,  animasi buatannya yang disebutnya melampaui jaman. Namun, karena sudah terkenal tidak bersahabat bagi produser, besar kemungkinan film ini tidak pernah terwujud.

Advertisements
Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: