Tragedi Penerbangan 574 | Inspirasi Kecelakaan Adam Air dalam Balutan Horor Murahan

Jika muncul logo ini di awal film, siap-siap masuk ke dunia tanpa ujung yang mengerikan sekaligus mengacak otak.

Awalnya ketika hendak menonton Tragedi Penerbangan 574, ekspektasinya adalah film bujet rendah yang mengangkat problem saat pesawat jatuh atau minimal ketegangan saat kecelakaan terjadi. Sempat ada terbersit pikiran bahwa film ini bakal disusupi unsur-unsur mistis, karena jujur sebelum menyaksikan penulis tidak tahu apa-apa. Posternya sebenarnya cukup menarik. Hanya bergambar pesawat dalam keadaan kritis, seakan menunjukkan bahwa film ini banyak banyak dititikberatkan di kecelakaan itu. Ternyata, saat film dimulai, logo di atas muncul dan terpaksa semua ekspektasi bubar. Sekadar informasi, K2K Productions adalah jawara untuk industri film dengan metode yang kebalik-balik. Saat produser berniat membuat film bagus dan dicitrakan secara bagus pula, K2K malah terus menerus membuat film asal-asalan dan selalu mencitrakan mereka dengan buruk pula. Contoh paling ekstrim adalah Mr Bean Kesurupan, dengan membuat penonton seolah-olah menganggap bakal muncul Rowan Atkinson di situ padahal sampai detik ini tidak ada yang tahu siapa itu Mr Bean yang diasosiasikan.

Untungnya, K2K Productions konsisten dalam membangun imejnya. Jadi, saat logo di atas muncul, brand image orang sudah tahu bahwa yang akan tayang adalah film asal-asalan. Imej brand bahwa K2K itu produsen film sampah sudah terpatri bagi para movie junkies. Jadi, saat frame pertama film tayang setelah title screen, penonton sudah disajikan secara hangat menu khas K2K. Bagaimana tidak luar biasa, adegan pertama adalah sekelompok anak muda di tengah kebun kelapa. Sangat klise, karena siapapun bisa menebak bahwa mereka yang saat menghafalkan skrip (yang mungkin juga tidak eksis) mereka harus berperan menjadi karakter yang sejak lahir sudah diimunisasi bidan sinting yang membuat IQ-nya mereka terjun bebas. Ada satu karakter yang ketakutan setengah mati ketika teman-temannya mau uji nyali lalu memilih pulang. Sendirian. Di dunia nyata, itu tidak pernah terjadi. Orang kalau sudah ketakutan, mana ada mau jalan sendiri di hutan gelap gitu. Adegan ini sangat kuat karena di bagian berikut kita bisa menebak bahwa film tidak akan ke mana-mana selain festival kebodohan. Tidak terhitung jumlahnya, khas K2K.

Saat adegan pertama berlalu, penonton sudah ditipu karena tidak ada indikasi bahwa film ini bakal bertema pas dengan poster maupun judul filmnya. Penerbangan 574 sendiri merupakan tragedi Adam Air yang sempat heboh saat kejadiannya berlangsung. KK Dheraj selaku terdakwa diproduksinya film ini sempat mengatakan bahwa film ini dibuat dengan inspirasi kejadian tersebut. Keberangkatan dan tujuan penerbangannya pun sesuai dengan kejadian nyata: Surabaya – Menado. Tetapi, sisanya tidak ada yang pas. Kejadian aslinya penerbangan tersebut memakan korban 96 penumpnag dan 6 awak, tetapi di film ini hanya 9 orang plus satu mayat yang dibawa. Di kejadian asli, pesawatnya adalah penerbangan komersial. Di film ini dengan briliannya keluarga anak ketakutan di adegan awal yang akhirnya mati menyewakan Boeing 737 (saat adegan take off dan menurut pengakuan KK Dheraj) untuk terbang ke Menado. Di kejadian asli, pesawatnya berangkat dari Juanda, di film mereka urus carter di Museum Transportasi TMII dan berangkat dari Pondok Cabe di hari yang sama. Di kejadian asli tidak ada unsur hantu dalam pesawat, di film Kiki Amalia melotot sepanjang film lalu membuat teror.

Tidak ada yang salah dengan tidak persisnya film dengan kejadian nyata, ketika film itu menyebut diri berdasarkan kisah nyata. Toh, film-film Hollywood bisa memberikan daftar ketidaksingkronan yang lebih panjang. Bedanya, di film ini selain tidak singkron penonton sendiri tidak pernah bisa dibuat ingat dengan kejadian yang sesungguhnya, karena film ini selain diproduksi asal-asalan juga kelihatannya dibuatnya dengan cara yang acak. Di mana ada hal yang keliatan seru (padahal biasa aja) yah itu yang dimasukkan ke frame. Maka, selain ketidaksinkronan yang ekstrim antara kejadian nyata dan film, ketidaksingkronan adegan ke adegan pun menghiasi. Sebagai contoh, sulit menentukan sebenarnya film ini menggunakan pesawat apa. Saat pesawat berada di landasan terlihat jelas bahwa pesawat itu memakai F28. Saat lepas landas (yang sangat jelas diambil dari stok video), pesawat memakai Boeing 737. Saat di udara, film memakai reka 3D yang menyerupai pesawat yang lebih besar. Saat adegan di ‘dapur’ pesawat, malah kelihatan seperti dapur kos-kosan. Entah pesawat apa yang memiliki galley seperti itu. Untuk detil pesawat bisa cek ke blog ini, sekaligus juga terlihat kok di trailernya.

Menyorot ke adegan di ‘dapur’ pesawat, mungkin penonton menanti terus adegan yang menyorot ke tempat itu. Adegan itu jelas berada di studio. Orang yang sering naik pesawat jelas tahu bahwa tidak ada rak kawat buat menaruh piring ada di pesawat. Kalau turbulence bisa bubar ke mana-mana. Galley atau ‘dapur’ pesawat memang berkembang menjadi dalam bentuk troli dan sekarang memiliki standar demi keselamatan itu sendiri. Kalau dibuat seperti dapur kos-kosan, maka jangan heran kalau pramugarinya bisa mati ketusuk pisau yang jatuh ketika pesawatnya goncang. Pisau dapur buat memotong mangga kok dibawa ke pesawa. Sekali lagi, di film ini semua yang terlibat sudah diimunisasi penurut IQ, bahkan desainer pesawatnya pun juga ikutan. Absurditas ‘dapur’ di film ini begitu menghanyutkan karena saat kekacauan kita bisa melihat berhamburannya piring, sachet kopi, sedotan, sendok garpu, dan perkakas lain yang entah kenapa nyasar di pesawat.

Film ini memang dibuat dengan penuh kesadaran tinggi bahwa untuk mendapatkan profit, produksi harus ditekan. Kelihatan sekali film ini dibuat hanya dalam hitungan hari. Kiki Amalia sebagai hantu nyasar entah siapa yang membawanya ke situ tampak hanya muncul di adegan dalam studio dan ruangan hotel. Tidak pernah dia kelihatan di interior pesawat. Oh iya, selain abg yang uji nyali di kebun kelapa, pesawat itu disewa bareng dengan seorang om dengan jablaynya yang kabur dari Surabaya karena mereka membunuh istri si om. Si istri yang diperankan Kiki Amalia itu pun nebeng di pesawat. Dan, ketegangan muncul saat satu pesawat sadar kalau om itu adalah buron. Mereka tahu dari koran Kompas yang tiba-tiba karena bangkrut mereka turun kelas jadi ala Lampu Merah dan menaruh headline tentang pembunuhan itu. Dan, koran itu ada di pesawat. Dan, tidak ada yang sadar sebelumnya termasuk kru pesawatnya. Baru sadar kemudian, biar tambah seru ceritanya katanya.

Tragedi Penerbangan 574 adalah satu dari sekian banyak film asal jadi dengan kru amat sedikit yang diproduksi Indonesia akhir-akhir ini. Bisa disebut sedikit karena kredit penutup hanya berlangsung kurang dari tiga menit. Tapi, film ini cukup spesial karena gembar-gembornya film ini mengeluarkan bujet ratusan juta hanya untuk menyewa pesawat. Gembar-gembor boleh bohong. KK Dheraj seperti di film sebelumnya hendak memberikan ilusi, seolah ada lompatan besar yang telah dia buat. Menarik kalau film ini bertabur ketidaklogisan. Di satu sisi sebenarnya menghibur karena penonton yang tidak diimunisasi turun IQ bisa menertawakan kebodohan di film ini.

Advertisements
Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: