Captain America: The Winter Soldier | Dominasi Superhero di Era Marvel Masih Berlanjut

Film patriotik Amerika Serikat untuk masa kini

Film patriotik Amerika Serikat untuk penonton masa kini

Apa jadinya jika sebuah studio film berhasil membuat penghasilan besar untuk karakter komik yang meski sempat ikonik namun sempat divonis tidak relevan untuk masa kini. Untuk lawan-lawan studio tersebut, hal itu merupakan sebuah bahaya. Captain America: The Winter Soldier mau tidak mau membuat standar baru dalam film adaptasi komik. Setidaknya film ini membuat pakem baru bahwa yang lawas bukan berarti tidak bisa ditampilkan ulang untuk penonton era sekarang. Sebagai film mainstream, kisah patriotik Steve Rodgers jilid tiga (setelah prekuel dan Avengers) memang terbukti bahwa karakter ini masih layak diterima di hati audiens. Ulasan ini memiliki spoiler ringan yang jika belum menonton film ini bisa terganggu.

Marvel dengan Marvel Cinematic Universe (MCU) memang mengagumkan. Ketika mereka ingin meproduksi sendiri karakter-karakter jagoannya, dengan mengambil lagi hak produksi dari studio lain, banyak yang skeptis bahwa langkah ini bakal berhasil. Bayangkan saja, Marvel Studio hanya disisakan karakter-karakter yang saat itu tidak sepopuler Spider-man. Karakter menarik dari X-men juga tidak bisa diproduksi langsung sebagai studio utama karena hak itu dipegang oleh 20th Century Fox. Maka, Marvel hanya bisa mengambil alih Iron Man, Captain America,  Thor, dan karakter-karakter lain yang jelas kalah terkenal dibanding yang sudah disebut atau dari kompetitor mereka seperti Batman atau Superman. Dari semua jagoan utama, Captain America termasuk yang paling sulit untuk diadaptasi ke film. Apa tidak lucu melihat jagoan dengan kostun seperti dijahit langsung dari bendera Amerika Serikat di jaman internet ini.

Membawa Captain America ke dunia sinema memang menjadi tantangan, namum Marvel Studio tidak mau mencoret jagoan ini dari daftar tokoh andalan mereka. Maka, dengan segala risikonya Captain America difilmkan dengan sub judul The First Avenger. Kevin Feige sendiri bilang bahwa meski bukan jadi jualan utama, kisah Captain America harus diceritakan di jaman Perang Dunia II. Hal ini untuk menancapkan ke penonton bagaiman problem karakter ini, hingga studio bisa menuai hasil lebih baik lagi di film-film berikut. Peta pemikiran ini memang brilian, karena Marvel Studio ingin membuat sebuah dunia khayal sendiri agar penonton memiliki kontinuitas. Saat sekuel Captain America yang notabene sudah ‘lahir lagi’ di dunia masa kini, perlu lah kisahnya dibawa ke polemik yang lebih aktual. Dipilihlah tema Winter Soldier, di mana secara garis besar memiliki tema yang mengikat masa lalu dan masa kini Captain America.

Komik Winter Soldier yang digarap Ed Brubaker dan Steve Epting memang fenomenal ketika pertama kali rilis di tahun 2005. Captain America adalah jagoan yang dibuat untuk meningkatkan patriotisme Amerika Serikat yang ketika itu sedang berperang melawan Nazi. Karakter ini sendiri sudah cukup tua, muncul pertama kali di Captain America Comics #1 di Maret 1941. Maka, tidak heran jika ada seri di mana Captain America melawan Adolf Hitler itu sendiri. Bucky adalah tokoh yang mengagumi Captain America dan selalu ikut ke mana-mana. Pada akhirnya Bucky mati selama bertahun-tahun sebelum akhirnya muncul lagi di komik di Januari 2005 (Winter Soldier Vol. 1: The Longest Winter), dengan identitas Winter Soldier.

Ketika di komik butuh lebih dari 60 tahun untuk menghidupkan lagi Bucky, maka film tidak perlu menunggu selama itu. Tentu amat tidak menarik apabila sekuel Captain America bertarung melawan Adolf Hitler, atau antagonis lain yang cenderung repetitif. Film tidak dibuat sebulan atau seminggu sekali. Dengan padatnya jadwal MCU, maka perlu dipilih mana yang paling menarik dan relevan dari sekian banyak cerita untuk dijadikan acuan. Komik Winter Soldier meman merupakan pilihan tepat. Captain America: The Winter Soldier pun tampil sebagai film yang meyakinkan dan fresh untuk ukuran film superhero. Ketika sekuel-sekuel Iron Man terlihat memiliki haluan yang membosankan (Tony Stark vs industrialis rakus lain yang ingin seperti Tony Stark), Captain America tidak mau tampil di perahu yang sama. Di film pertama adalah tentang Perang Dunia II, sekuelnya harus belok arah agar menarik.

Maka, menonton Captain America: The Winter Soldier seperti menonton film political thriller yang terinspirasi dari kisah-kisah Tom Clancy. Plus teknologi dan kehebatan Steve Rogers, film ini malah lebih GI Joe daripada film GI Joe itu sendiri. Segalanya ditampilkan dengan pas untuk membuat penonton terhibur tanpa mengorbankan kualitas film ini secara utuh. Motif Captain America pun terlihat jelas, di sekuel ini karakter Captain America pun semakin jelas dan konsisten. Seperti di penampilan sebelumnya, Captain America tetap digambarkan sebagai jagoan yang serius, patriotik, dan bersikap seperti layaknya tentara. Bedanya di film ini dia terlihat sedikit lepas, mampu memberi satu dua lelucon untuk menghangatkan percakapan. Meski, saat keadaan makin kritis, dia tidak mengeluarkan kelakar-kelakar itu. Well, dia bukan Tony Stark atau Spider-man yang dalam kondisi apa saja tetap saja melepas guyon.

Kadar aksi di film ini juga amat luar biasa. Agak kaget bahwa kedua sutradara, Joe dan Anthony Russo yang notabene merupakan film layar lebar besar pertama mereka, berhasil mengeksekusi semua adegan ini dengan kualitas di atas rata-rata. Dengan bujet cukup jauh di bawah Avengers (USD 220 juta) dan Man of Steel (USD 225), film yang memakan biaya USD 170 juta ini tampil begitu mewah. Gabungan aksi langsung dan CGI di film ini juga terasa mulus, dengan pertarungan satu lawan satu atau satu lawan banyak yang menawan. Cukup takjub duo sutradara yang rekam jejaknya sekelas You and me and Dupree ini bisa mempertahankan laju film secara keseluruhan. Ini film tentang jagoan yang memakai bendera Amerika sebagai kostum, membuat film ini begitu berkelas adalah prestasi luar biasa untuk mereka!

Dari segi cerita film ini juga memberikan nuansa sendiri dari film-film superhero. Film ini tidak hanya tentang jagoan ketemu musuk, bak bik buk, musuh kalah lalu usai. Film ini senantiasa memberikan elemen kejut demi elemen kejut, apalagi bagi mereka yang belum baca komik Winter Soldier atau mengikuti berita film ini. Plot mengenai Hydra di film ini juga tampil baik tanpa terasa dipaksakan seperti kebanyakan film pop corn belakangan ini. Segala tentang konspirasi di film ini seperti alusi terhadap kejadian nyata di dunia. Tentang siapa musuh sebenarnya, atau mereka yang dianggap teman ternyata bisa saja mengintip data pribadi. Lihat kasus Snowden dan NSA.

Aksi Anim Zola dan Hydra di film ini sendiri bukanlah hal yang terjadi di dunia dalam waktu dekat. Mungkin ‘menaruh’ jiwa manusia ke dalam server masih terlalu jauh. Tetapi, kemampuan melakukan prediksi di masa depan atas keputusan seseorang bukanlah sesuatu yang mustahil. Google saja bisa ‘menebak’ apa yang dimaui oleh penggunanya berdasarkan data pemakaian internet pengguna via produk Google. Dengan teknologi ini mereka bisa merekomendasikan yang relevan terhadap pengguna lewat Google Now atau lewat media iklan mereka.  Dengan data yang lebih kompleks dan teknologi yang lebih rumit, bukan tidak mungkin NSA bisa tahu siapa saja yang berpotensi menjadi ‘teroris’ dan ditangkap sebelum bahkan orang itu melakukan tindak terorisme.

Captain America: The Winter Soldier jadi tontonan yang mencengangkan di 2014 ini, setelah Iron Man 3 dan Thor 2 yang sedikit di bawah ekspektasi. Dengan film ini, MCU pun menjadi lebih menarik. Setelah Avengers, tidak sedikit yang mengira bahwa ke depannya film superhero akan gitu-gitu saja. Tetapi, fase kedua baru saja dimulai dengan film ini. Momen-momen penting di film ini seperti menentukan arah cerita dari MCU secara keseluruhan. Dari sisi kualitas, film ini juga jadi patokan bagi film-film superhero ke depannya, terutama bagaimana mengemas karakter yang tidak terlalu ikonik dan populer. Bagi yang belum menonton, jangan keburu pergi setelah film usai, karena mid credit di film ini mungkin jadi yang paling menarik di antara film-film MCU lainnya sejauh ini.

 

 

Advertisements
Tagged , ,

One thought on “Captain America: The Winter Soldier | Dominasi Superhero di Era Marvel Masih Berlanjut

  1. jaggsinopsis says:

    kehadiran winter soldier mmg bikin merinding..
    tp sekaligus terkesan mirip naruto,
    yg karakternya terlihat mati, trus tiba2 hidup lg, wkwk…
    cuma pendapat saya aja sih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: