Devil’s Rejects | Kebrutalan dalam POV

Rob Zombie pernah mengatakan tidak pada naskah yang menampilkan karakter yang tampan atau cantik sebagai tokoh utamanya. Hal ini bohong besar. Rob Zombie tetap memilih Sheri Moon sebagai pembunuh di Devil’s Rejects. Melihat Sheri seperti melihat Jessica Simpson membawa pistol ke mana-mana, dan membunuh seenak jidatnya. Tentu tidak seseksi Jessica. Di luar itu, Devil’s Rejects adalah karya Rob Zombie yang sukses. Ia memang kelihatan mau menyelamatkan diri dari karya sebelumnya, House of 1000 corpses, yang ditimpali oleh cercaan demi cercaan. Untungnya ia berhasil. Rob Zombie yang notabene adalah pemusik rock eksperimental (kadang ia menyusupkan raungan gitar ala ZZ Top yang ngountry itu), memang mau mengangkat ciri horor berbeda dari horor kebanyakan. 

Devil’s Rejects punya titik tolak yang seirama dengan Texas Chainsaw Massacre ala Tobe Hooper. Titik itu adalah tema horor yang terjadi di dunia perkampungan, dunia underground yang kebetulan ada di Amerika. Bedanya sudut pandang Zombie ditekankan pada ruang sempit ketakutan yang diciptakan oleh para pembunuh. Artinya, penonton akan lebih banyak melihat ke sisi pembunuh, sisi antagonis. Tidak seperti horor kebanyakan di mana kamera bertitik berat pada bagaimana korban dieksploitasi ketakutannya saat dikejar-kejar tokoh antagonis.

Devil’s Rejects sekilas justru seperti kisah pelarian singkat keluarga maniak ini. Berbagai elemen dieksperimentasikan Zombie di film ini. Ia memanfaatkan betul teknologi-teknologi perfilman bawah tanah, agar itu sesuai dengan filosofinya tentu. Zombie tidak menggunaka kamera canggih, tidak seperti remake Texas Chainsaw atau Amytiville yang malah kelihatan ‘bagus’ itu. Namun, hal ini yang memberi poin lebih. Atmosfirnya sangat terasa mencekam. Kisah pelarian singkat ini pun diatur dengan drama yang beragam. Zombie mencampur dialog komedi gelap dan satir untuk meningkatkan sisi kegetiran dari film ini. Emosi korban yang dipermainkan oleh karakter-karakter tanpa rasa tega Zombie menjadi kekuatan lain dari kengerian yang ditebar film ini hampir di sepanjang film. Lucu memang bahwa di sini ada sedikit unsur komedi, walau hitam. Kelucuan yang ditampilkan misalnya ketika melihat kemanjaan Baby kepada bapaknya si badut jelek. Jadinya seperti Family Vacation versi Charles Manson.

Devil’s Rejects kalau mau dikategorikan berada pada horor brutal, namun belum sampai ke taraf hardcore. Anggap saja film slasher di era 2000-an. Film ini eksploitasi ketakutannya sebatas tusuk-menusuk, belum sampai adegan daging manusia yang dimakan mentah-mentah atau kepala terpenggal yang ditampilkan eskplisit. Tetap saja film ini terasa menyayat. Profil yang ditampilkan jelek apa adanya dari karakter-karakter ini, kecuali si Jessica Simpson-ish, mendukung rasa menyayat itu. Tidak ada tokoh satu pun yang elit, semuanya kelihatan kampung.

Devil’s Rejects adalah sebuah karya menarik. Trashy but beautiful. Elemen yang ditaruh seperti mendaur ulang sampah saja, Zombie mengolahnya menjadi tidak membuat penonton sakit mata (tentu hal ini tidak berlaku untuk penonton anti kebrutalan). Devil’s Rejects adalah salah satu tontonan menarik di tahun 2005. Mungkin suatu saat nanti Rob Zombie akan membuat karya yang lebih brutal untuk bergeser ke pangsa penonton yang gemar menyaksikan eksploitasi kesadisan di layar putih. Ditunggu versi Rob Zombie di kategori ini.

Advertisements
Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: